Bagiku guru adalah
sesosok manusia yang luar biasa. Seseorang disebut guru bukan karena dia lebih cerdas
atau karena dia serba tahu. Tetapi menjadi seorang guru karena dia telah
mengetahui lebih dulu daripada muridnya. Guru dengan senang hati berbagi ilmu, pengetahuan
dan wawasan. Kata ibu, semakin kita berbagi ilmu, justru ilmu kita akan semakin
bertambah.
Sejak kecil aku selalu
mendambakan menjadi seorang guru. Berdiri dihadapan murid-murid, bercerita dan mengajarkan banyak hal serta
saling berbagi ilmu.
Guru berperan penting
dalam mencetak para ilmuan dan generasi muda berpendidikan. Polisi, Dokter,
Apoteker, Perawat, Bidan, Hakim, Menteri, Politikus, bahkan Presiden sekalipun
belajar dari seorang guru.
Tetapi semakin aku
beranjak dewasa, bagiku definisi guru tidak sesederhana itu. Bagiku guru tidak
sebatas hanya mengajar di dalam kelas. Definisi guru itu luas. Aku ingin
menjadi seorang guru bagi murid-muridku, menjadi guru bagi adik-adikku, menjadi
guru bagi karyawan-karyawanku dan menjadi guru bagi anak-anakku kelak.
Dengan kata lain, kelak
aku ingin mempunyai sebuah usaha dimana karyawan-karyawanku dapat belajar
banyak dari ku. Aku akan menjadi guru pertama (ibu) bagi anak-anakku dan
menjadi guru bagi masyarakat sekitar.
Karena itu aku harus
memiliki ‘modal’ apa yang harus aku berikan kepada mereka.
Orang bijak bilang, ‘apa
yang akan kamu berikan sebagai seorang guru kepada muridmu jika kamu saja tidak
mempunyai ‘modal’. Ilmu yang kamu berikan kepada murid-muridmu, belum tentu
semua akan diterima dengan baik oleh mereka, apalagi jika pengetahuan seorang
guru memang sangat kuran.’ Karena itu aku ingin belajar banyak hal untuk
menjadi seorang guru.
Aku memang tidak
belajar secara formal bagaimana menjadi seorang guru, bagaimana pendidikan
karakter dan lain sebagainya. Tetapi aku tetap ingin menjadi seorang guru.
Pun kini, dimasa-masa
kuliah, aku menyukai kegaiatan ku di luar kampus. Mengajar di Yayasan Al-Mizan.
Berinteraksi langsung dengan anak-anak, mulai dari TK sampai SD. Lima bulan mengajar
disini, ada banyak kebahagiaan tersendiri yang aku dapatkan. Mengajar, tertawa,
bercerita, semua menyenangkan. Terkadang memang sulit mengahadapi anak-anak
‘nakal’. Tetapi disitulah tantangan nya.
Kata ibu, jika kamu
mengajar dimulai dengan mengajar anak nakal, kelak kamu akan lebih mudah untuk
menangani anak yang lebih baik. Karakter anak selalu berbeda-beda.
Aku ingin mengajar agar
aku BELAJAR. Aku ingin mendidik agar aku TERDIDIK.
Mungkin benar komentar
teman-teman tentang keinginanku menjadi guru.
“Kenapa kamu tidak menjadi
guru sesungguhnya? Maksudku, kenapa tidak kuliah di fakultas yang memang khusus
keguruan? Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Bukankah jika kamu menjadi
guru di sekolah, waktu mu untuk bertemu dengan murid-murid mu justru semakin
intens? Kamu dapat setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan mereka? Tetapi
kenapa kamu justru memilih jurusan lain selain guru?”
Aku memang menyukai
semua hal tentang guru, tetapi selain itu aku juga menyukai hal lain. Aku ingin
menjadi seorang farmasis. Bagiku, semua orang bisa menjadi guru tanpa harus
kuliah di fakultas keguruan. Tetapi tidak semua orang bisa menjadi farmasis
tanpa mengenyam pendidikan di bidang farmasi sebelumnya. Selain itu aku tidak
menyukai hal terikat seperti bekerja satu arah hanya sebagai seorang guru. Aku menjadikan
kegiatan belajar-mengajar sebagai sebuah hobi dan kebahagiaan yang aku
dapatkan.
Ayah bilang, ilmu itu
tidak sebatas kamu belajar dan duduk di kelas. Pepatah lama mengatakan: “Pengalaman adalah
guru yang paling baik”
Aku memang bukan
seseorang yang cerdas seperti rekan-rekanku yang biasa mewakili universitas
untuk lomba sana-sini. Pun aku bukan seorang aktivis hebat dan berpengaruh
dalam organisasi. Aku sadar aku tidak sehebat itu. Aku hanya seseorang yang
biasa-biasa saja. Aku hanyalah seorang gadis desa yang merantau dengan membawa
berjuta harapan masa depan.
Tapi aku paham
kelebihanku adalah bahwa aku peduli. Aku peduli dengan orang lain, aku peduli
dengan dunia pendidikan, dan aku peduli dengan generasi muda. Mungkin modal
yang aku miliki hanya berawal dari rasa peduli.
Tetapi bukankah guru
memang seorang pahlawan tanpa tanda jasa meskipun jasa guru sebenarnya sangat
besar?
Bersyukur karena aku
masih diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dibangku pendidikan, belajar
bersama guru-guru hebat.
Hingga kini jika
ditanya apa cita-cita ku, jawabanku akan tetap sama, aku ingin menjadi ‘guru’. Aku
ingin mengabdikan diriku kepada masyarakat dengan ilmu yang aku miliki sebagai
seorang farmasis dan membagi waktuku menjadi seorang ‘guru’. Mengajar anak-anak
muda dan generasi penerus bangsa. Bagiku mengajar adalah sebuah hobi untuk
saling berbagi.
Hah, entah mungkin
orang menganggap aku terlalu muluk-muluk. Tapi bagiku tidak. Justru keinginanku
sederhana. Aku hanya ingin mengabdikan diriku dengan ilmu yang aku miliki.
Berbagi dan saling membantu ketika aku berprofesi sebagai farmasis, dan membagi
ilmu ketika aku sebagai seorang ‘guru’.
Sesederhana itu
keinginanku. Aku hanya ingin menjadi ‘guru’ dan bermanfaat bagi orang lain. Bukankah orang hebat adalah orang yang dapat
membuat orang lain (juga) hebat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar