Kamis, 07 Januari 2016

-What do you think about teachers?-

Bagiku guru adalah sesosok manusia yang luar biasa. Seseorang disebut guru bukan karena dia lebih cerdas atau karena dia serba tahu. Tetapi menjadi seorang guru karena dia telah mengetahui lebih dulu daripada muridnya. Guru dengan senang hati berbagi ilmu, pengetahuan dan wawasan. Kata ibu, semakin kita berbagi ilmu, justru ilmu kita akan semakin bertambah.
Sejak kecil aku selalu mendambakan menjadi seorang guru. Berdiri dihadapan murid-murid,  bercerita dan mengajarkan banyak hal serta saling berbagi ilmu.
Guru berperan penting dalam mencetak para ilmuan dan generasi muda berpendidikan. Polisi, Dokter, Apoteker, Perawat, Bidan, Hakim, Menteri, Politikus, bahkan Presiden sekalipun belajar dari seorang guru.
Tetapi semakin aku beranjak dewasa, bagiku definisi guru tidak sesederhana itu. Bagiku guru tidak sebatas hanya mengajar di dalam kelas. Definisi guru itu luas. Aku ingin menjadi seorang guru bagi murid-muridku, menjadi guru bagi adik-adikku, menjadi guru bagi karyawan-karyawanku dan menjadi guru bagi anak-anakku kelak.
Dengan kata lain, kelak aku ingin mempunyai sebuah usaha dimana karyawan-karyawanku dapat belajar banyak dari ku. Aku akan menjadi guru pertama (ibu) bagi anak-anakku dan menjadi guru bagi masyarakat sekitar.
Karena itu aku harus memiliki ‘modal’ apa yang harus aku berikan kepada mereka.
Orang bijak bilang, ‘apa yang akan kamu berikan sebagai seorang guru kepada muridmu jika kamu saja tidak mempunyai ‘modal’. Ilmu yang kamu berikan kepada murid-muridmu, belum tentu semua akan diterima dengan baik oleh mereka, apalagi jika pengetahuan seorang guru memang sangat kuran.’ Karena itu aku ingin belajar banyak hal untuk menjadi seorang guru.
Aku memang tidak belajar secara formal bagaimana menjadi seorang guru, bagaimana pendidikan karakter dan lain sebagainya. Tetapi aku tetap ingin menjadi seorang guru.
Pun kini, dimasa-masa kuliah, aku menyukai kegaiatan ku di luar kampus. Mengajar di Yayasan Al-Mizan. Berinteraksi langsung dengan anak-anak, mulai dari TK sampai SD. Lima bulan mengajar disini, ada banyak kebahagiaan tersendiri yang aku dapatkan. Mengajar, tertawa, bercerita, semua menyenangkan. Terkadang memang sulit mengahadapi anak-anak ‘nakal’. Tetapi disitulah tantangan nya.
Kata ibu, jika kamu mengajar dimulai dengan mengajar anak nakal, kelak kamu akan lebih mudah untuk menangani anak yang lebih baik. Karakter anak selalu berbeda-beda.
Aku ingin mengajar agar aku BELAJAR. Aku ingin mendidik agar aku TERDIDIK.
Mungkin benar komentar teman-teman tentang keinginanku menjadi guru.
“Kenapa kamu tidak menjadi guru sesungguhnya? Maksudku, kenapa tidak kuliah di fakultas yang memang khusus keguruan? Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Bukankah jika kamu menjadi guru di sekolah, waktu mu untuk bertemu dengan murid-murid mu justru semakin intens? Kamu dapat setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan mereka? Tetapi kenapa kamu justru memilih jurusan lain selain guru?”
Aku memang menyukai semua hal tentang guru, tetapi selain itu aku juga menyukai hal lain. Aku ingin menjadi seorang farmasis. Bagiku, semua orang bisa menjadi guru tanpa harus kuliah di fakultas keguruan. Tetapi tidak semua orang bisa menjadi farmasis tanpa mengenyam pendidikan di bidang farmasi sebelumnya. Selain itu aku tidak menyukai hal terikat seperti bekerja satu arah hanya sebagai seorang guru. Aku menjadikan kegiatan belajar-mengajar sebagai sebuah hobi dan kebahagiaan yang aku dapatkan.
Ayah bilang, ilmu itu tidak sebatas kamu belajar dan duduk di kelas.  Pepatah lama mengatakan: “Pengalaman adalah guru yang paling baik”
Aku memang bukan seseorang yang cerdas seperti rekan-rekanku yang biasa mewakili universitas untuk lomba sana-sini. Pun aku bukan seorang aktivis hebat dan berpengaruh dalam organisasi. Aku sadar aku tidak sehebat itu. Aku hanya seseorang yang biasa-biasa saja. Aku hanyalah seorang gadis desa yang merantau dengan membawa berjuta harapan masa depan.
Tapi aku paham kelebihanku adalah bahwa aku peduli. Aku peduli dengan orang lain, aku peduli dengan dunia pendidikan, dan aku peduli dengan generasi muda. Mungkin modal yang aku miliki hanya berawal dari rasa peduli.
Tetapi bukankah guru memang seorang pahlawan tanpa tanda jasa meskipun jasa guru sebenarnya sangat besar?
Bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dibangku pendidikan, belajar bersama guru-guru hebat.
Hingga kini jika ditanya apa cita-cita ku, jawabanku akan tetap sama, aku ingin menjadi ‘guru’. Aku ingin mengabdikan diriku kepada masyarakat dengan ilmu yang aku miliki sebagai seorang farmasis dan membagi waktuku menjadi seorang ‘guru’. Mengajar anak-anak muda dan generasi penerus bangsa. Bagiku mengajar adalah sebuah hobi untuk saling berbagi.
Hah, entah mungkin orang menganggap aku terlalu muluk-muluk. Tapi bagiku tidak. Justru keinginanku sederhana. Aku hanya ingin mengabdikan diriku dengan ilmu yang aku miliki. Berbagi dan saling membantu ketika aku berprofesi sebagai farmasis, dan membagi ilmu ketika aku sebagai seorang ‘guru’.

Sesederhana itu keinginanku. Aku hanya ingin menjadi ‘guru’ dan bermanfaat bagi orang lain.  Bukankah orang hebat adalah orang yang dapat membuat orang lain (juga) hebat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar