Mungkin terkadang kita
lupa untuk bersyukur, malas untuk berserah dan terlalu sombong untuk meminta.
Ribuan kali ibu bilang,
‘sudah tahu kan, berharap dengan manusia itu sakit, nak? Maka, berharaplah
kepada Allah, bukan kepada manusia. Dia-lah tempatmu meminta.’
Jutaan kali ayah bilang,
‘semakin banyak kamu meminta kepada manusia, ada masanya manusia akan malas
bahkan marah jika kamu mintai terus. Beda hal nya dengan kamu meminta kepada Allah,
nak. Semakin kamu meminta kepada Allah, maka Allah semakin senang. Minta lah
apupun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah.’
Allah-lah yang paling
tahu dan paling mengerti, apa yang terbaik untuk umat-Nya. Allah selalu baik
kepada setiap makhluk, entah itu umat-Nya ataupun bukan.
“Maka, nikmat Tuhan
kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ibu selalu bilang, ‘jika
apa yang kamu inginkan tidak sesuai dengan harapan, tandanya itu bukan yang
terbaik untukmu, nak. Maka, minta lah apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang
kamu inginkan. Allah sedang menyiapkan yang terbaik untukmu.’
Ibu benar. Rasanya aku
terlalu ‘ngotot’ dan ‘ambisius’. Padahal bukankah hidup kita sudah diatur oleh
Sang Pencipta. Seperti kata Pak Dimhari, Direktur Yayasan tempatku mengajar,
beliau bilang:
“Tidak ada yang namanya
kebetulan di dunia ini, mbak. Semua sudah ada yang mengatur. Ikuti saja
aturannya.”
Ayah kan sudah bilang, ‘mempunyai
ambisi yang besar memang bagus, tetapi juga harus tahu bagaimana kemampuan diri.’
Aku sadar, semua yang
aku lalui bukanlah apa-apa jika bukan karena restu dan do’a kedua orang tua.
Aku (baru) sadar. Di setiap
perjalanan hidup yang aku lalui, (selalu) dipermudah. Meskipun pada awalnya
terlihat banyak rintangan. Tetapi justru karena rintangan dan kerikil kecil
itulah justru membuat semua lebih mudah.
Contoh kecil saja, baru
kemarin rasanya aku lelah dengan skripsiku yang perjalanannya ke sana kemari. Berkali-kali
gantu judul, menunggu, gagal dan lain sebagainya. Tetapi justru perjalanan
itulah yang mengantarkanku pada kemudahan.
Jika dipikir-pikir, skripsi
ini seakan menemukan ‘jati diri’ dengan sendirinya. Menyusun prosedur dengan sendirinya.
Aku (baru) sadar, ini semua Allah yang mengatur.
Bayangkan saja, masalah
skripsi yang aku jalani yang awalnya (mungkin) carut-marut, berpetualang
melalang-buana, kekurangan pasien, pada akhirnya aku diizinkan mengganti metode
dan parameter yang (jauh) lebih mudah dan cepat.
Skripsi ku pada awalnya
dengan cara yang njelemit, mengikuti perkembangan penyakit pasien selama
minimal tiga bulan pengobatan dengan pasien ya paling tidak 50 pasien, yang
sangat sulit mendapatkan pasien apalagi mendapatkan data. Sekarang pada
akhirnya aku diperbolehkan mengganti metode dan parameter hanya melihat Rekam
Medis yang memang data sudah ada karena dalam satu bulan lalu aku hanya
memperoleh dua pasien. Jalan Allah selalu lebih indah.
Aku tidak tahu hal
indah apa (lagi) yang sedang Allah siapkan untukku kelak. Apakah Allah akan
mempercepat kelulusan ku atau tidak. Karena saat ini aku memang sedang memiliki
satu masalah di kampus. Kuliah ‘sertifikasi 3’.
Kuliah ini hanya nol
sks, tetapi menjalani nya hampir sama dengan kuliah dua sks. Masuk kuliah
setiap minggu selama dua jam dan sebanyak empat belas kali pertemuan, kemudian
dilakukan ujian. Kedengarannya sepele, tapi jangan remehkan kuliah ini.
Sertifikasi 3 adalah kuliah yang mempelajari tentang ‘kemuhammadiyah-an’. Iya,
aku kuliah di Universitas Swasta, Muhammadiyah. Di Universitas Muhammadiyah
seperti kampusku memang sedikit berbeda dibandingkan Universitas umum lainnya. Disini
diwajibkan mengikuti kuliah sertifikasi. Mulai dari sertifikasi 1 yang
mempelajari tentang mengaji, sertifikasi 2 tentang akhlak, sertifikasi 3 tentang
muhammadiyah sampai sertifikasi 4 tentang dakwah. Semua sama, hanya memiliki
bobot nol sks dan tidak mempengaruhi nilai IPK. Tapi jika mahasiswa belum lulus
dalam kuliah sertifiksi, jangan harap bisa lulus dari Universitas.
Setiap semester selalu
ada kuliah sertifikasi seperti ini. Pada semester genap diadakan sertifikasi 1
ataupun sertifikasi 3 sedangkan pada semester ganjil diadakan sertifikasi 2
ataupun sertifikasi 4. Sebenarnya setiap semester aku sudah mengikuti semua
matakuliah sertifikasi. Nilai juga Alhamdulillah baik, mendapat grade ‘A’ dan ‘B’.
Tetapi khusus untuk setifikasi 3 aku mendapat nilai ‘D’. Saat itu karena aku
tidak ikut ujian akhir semester, karena alfa ku sudah lebih dari batas
maksimal. Bukan karena aku malas kuliah, tetapi karena pada saat kuliah
berlangsung, bersamaan dengan aku sedang
melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat itu sekali masuk kuliah,
dosen meminta untuk tanda tangan langsung 3 kali dan dianggap sudah
melaksanakan tiga kali pertemuan. Sedikitpun aku tidak menyalahkan KKN. Aku pun
sudah mengganti kuliah itu dengan masuk kelas lain dengan mata kuliah yang
sama, tetapi tetap saja aku tidak diizinkan tanda tangan. Bolosku sudah lebih
dari 4 kali saat itu, karena sebelumnya aku memang pernah tidak masuk (juga
karena bertabrakan dengan KKN). Alhasil memang sama sekali tidak diizinkan
untuk ujian dan pasrah mendapat nila ‘D’.
Benar kata ayah, jangan
remehkan hal kecil, nak. Kamu tidak akan tahu mungkin suatu saat hal kecil itu
akan menjadi besar. Bukankah hal-hal besar memang berasal dari hal kecil
sebelumnya?
Saat ini aku sudah
berada di ujung semester tujuh dan sedang melakukan penelitian skripsi. Bisa dibilang
semester depan aku sudah bebas teori, hanya lulus lagi. Tetapi sekali lagi, aku
tidak akan diluluskan jika masalah sertifikasi ini belum selesai. Bukan berarti
aku tidak ‘mengurusi’ masalah sertifikasi ini. Sejak semester 6 lalu pun aku
sudah kesana-kemari meminta kebijakan. Tetapi memang tidak ada kebijakan. Aku harus
menunggu tahun depan ketika mata kuliah itu diadakan lagi dan mengulang selama
satu semester. Ya, mau tidak mau aku harus menyelesaikan kuliah nol sks ini
selama satu semester.
Diakhir semester ini
aku sudah meminta kebijakan (lagi) dari pihak fakultas mengenai masalah ini.
Akhirnya fakultas memberikan surat pengantar untuk mengizinkanku mengikuti ujian
khusus dengan nilai maksimal C. Tidak masalah hanya mendapat nilai maksimal C,
yang penting lulus. Hanya saja masalah nya dosen pengampu mata kuliah ini bukan
dari fakultas ku sendiri, melainkan dari fakultas seberang, Fakultas Agama
Islam.
Harapanku satu, dosen
pengampu memberi kebijakan dan kesempatan untukku mengikuti ujian. Jika pun
pada akhirnya tidak ada kebijakan dan aku harus mengulang satu semester ini. ya
sudahlah. Sekali lagi, mungkin itu yang terbaik. Mungkin itu jalan yang Allah
berikan yang terbaik. Sungguh, ikhlas itu memang tidak mudah. Kuliah satu
semester untuk nol sks. Tetapi aku bisa banyak belajar dari sini. Jangan pernah
remehkan sesuatu yang (menurutmu) sepele.
21 tahun 29 hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar