Senin, 04 Januari 2016

-21 tahun 29 hari-

Mungkin terkadang kita lupa untuk bersyukur, malas untuk berserah dan terlalu sombong untuk meminta.
Ribuan kali ibu bilang, ‘sudah tahu kan, berharap dengan manusia itu sakit, nak? Maka, berharaplah kepada Allah, bukan kepada manusia. Dia-lah tempatmu meminta.’
Jutaan kali ayah bilang, ‘semakin banyak kamu meminta kepada manusia, ada masanya manusia akan malas bahkan marah jika kamu mintai terus. Beda hal nya dengan kamu meminta kepada Allah, nak. Semakin kamu meminta kepada Allah, maka Allah semakin senang. Minta lah apupun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah.’
Allah-lah yang paling tahu dan paling mengerti, apa yang terbaik untuk umat-Nya. Allah selalu baik kepada setiap makhluk, entah itu umat-Nya ataupun bukan.
“Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ibu selalu bilang, ‘jika apa yang kamu inginkan tidak sesuai dengan harapan, tandanya itu bukan yang terbaik untukmu, nak. Maka, minta lah apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan. Allah sedang menyiapkan yang terbaik untukmu.’
Ibu benar. Rasanya aku terlalu ‘ngotot’ dan ‘ambisius’. Padahal bukankah hidup kita sudah diatur oleh Sang Pencipta. Seperti kata Pak Dimhari, Direktur Yayasan tempatku mengajar, beliau bilang:
“Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, mbak. Semua sudah ada yang mengatur. Ikuti saja aturannya.”
Ayah kan sudah bilang, ‘mempunyai ambisi yang besar memang bagus, tetapi juga harus tahu bagaimana kemampuan diri.’
Aku sadar, semua yang aku lalui bukanlah apa-apa jika bukan karena restu dan do’a kedua orang tua.
Aku (baru) sadar. Di setiap perjalanan hidup yang aku lalui, (selalu) dipermudah. Meskipun pada awalnya terlihat banyak rintangan. Tetapi justru karena rintangan dan kerikil kecil itulah justru membuat semua lebih mudah.
Contoh kecil saja, baru kemarin rasanya aku lelah dengan skripsiku yang perjalanannya ke sana kemari. Berkali-kali gantu judul, menunggu, gagal dan lain sebagainya. Tetapi justru perjalanan itulah yang mengantarkanku pada kemudahan.
Jika dipikir-pikir, skripsi ini seakan menemukan ‘jati diri’ dengan sendirinya. Menyusun prosedur dengan sendirinya. Aku (baru) sadar, ini semua Allah yang mengatur.
Bayangkan saja, masalah skripsi yang aku jalani yang awalnya (mungkin) carut-marut, berpetualang melalang-buana, kekurangan pasien, pada akhirnya aku diizinkan mengganti metode dan parameter yang (jauh) lebih mudah dan cepat.
Skripsi ku pada awalnya dengan cara yang njelemit, mengikuti perkembangan penyakit pasien selama minimal tiga bulan pengobatan dengan pasien ya paling tidak 50 pasien, yang sangat sulit mendapatkan pasien apalagi mendapatkan data. Sekarang pada akhirnya aku diperbolehkan mengganti metode dan parameter hanya melihat Rekam Medis yang memang data sudah ada karena dalam satu bulan lalu aku hanya memperoleh dua pasien. Jalan Allah selalu lebih indah.
Aku tidak tahu hal indah apa (lagi) yang sedang Allah siapkan untukku kelak. Apakah Allah akan mempercepat kelulusan ku atau tidak. Karena saat ini aku memang sedang memiliki satu masalah di kampus. Kuliah ‘sertifikasi 3’.
Kuliah ini hanya nol sks, tetapi menjalani nya hampir sama dengan kuliah dua sks. Masuk kuliah setiap minggu selama dua jam dan sebanyak empat belas kali pertemuan, kemudian dilakukan ujian. Kedengarannya sepele, tapi jangan remehkan kuliah ini. Sertifikasi 3 adalah kuliah yang mempelajari tentang ‘kemuhammadiyah-an’. Iya, aku kuliah di Universitas Swasta, Muhammadiyah. Di Universitas Muhammadiyah seperti kampusku memang sedikit berbeda dibandingkan Universitas umum lainnya. Disini diwajibkan mengikuti kuliah sertifikasi. Mulai dari sertifikasi 1 yang mempelajari tentang mengaji, sertifikasi 2 tentang akhlak, sertifikasi 3 tentang muhammadiyah sampai sertifikasi 4 tentang dakwah. Semua sama, hanya memiliki bobot nol sks dan tidak mempengaruhi nilai IPK. Tapi jika mahasiswa belum lulus dalam kuliah sertifiksi, jangan harap bisa lulus dari Universitas.
Setiap semester selalu ada kuliah sertifikasi seperti ini. Pada semester genap diadakan sertifikasi 1 ataupun sertifikasi 3 sedangkan pada semester ganjil diadakan sertifikasi 2 ataupun sertifikasi 4. Sebenarnya setiap semester aku sudah mengikuti semua matakuliah sertifikasi. Nilai juga Alhamdulillah baik, mendapat grade ‘A’ dan ‘B’. Tetapi khusus untuk setifikasi 3 aku mendapat nilai ‘D’. Saat itu karena aku tidak ikut ujian akhir semester, karena alfa ku sudah lebih dari batas maksimal. Bukan karena aku malas kuliah, tetapi karena pada saat kuliah berlangsung, bersamaan dengan aku sedang  melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat itu sekali masuk kuliah, dosen meminta untuk tanda tangan langsung 3 kali dan dianggap sudah melaksanakan tiga kali pertemuan. Sedikitpun aku tidak menyalahkan KKN. Aku pun sudah mengganti kuliah itu dengan masuk kelas lain dengan mata kuliah yang sama, tetapi tetap saja aku tidak diizinkan tanda tangan. Bolosku sudah lebih dari 4 kali saat itu, karena sebelumnya aku memang pernah tidak masuk (juga karena bertabrakan dengan KKN). Alhasil memang sama sekali tidak diizinkan untuk ujian dan pasrah mendapat nila ‘D’.
Benar kata ayah, jangan remehkan hal kecil, nak. Kamu tidak akan tahu mungkin suatu saat hal kecil itu akan menjadi besar. Bukankah hal-hal besar memang berasal dari hal kecil sebelumnya?
Saat ini aku sudah berada di ujung semester tujuh dan sedang melakukan penelitian skripsi. Bisa dibilang semester depan aku sudah bebas teori, hanya lulus lagi. Tetapi sekali lagi, aku tidak akan diluluskan jika masalah sertifikasi ini belum selesai. Bukan berarti aku tidak ‘mengurusi’ masalah sertifikasi ini. Sejak semester 6 lalu pun aku sudah kesana-kemari meminta kebijakan. Tetapi memang tidak ada kebijakan. Aku harus menunggu tahun depan ketika mata kuliah itu diadakan lagi dan mengulang selama satu semester. Ya, mau tidak mau aku harus menyelesaikan kuliah nol sks ini selama satu semester.
Diakhir semester ini aku sudah meminta kebijakan (lagi) dari pihak fakultas mengenai masalah ini. Akhirnya fakultas memberikan surat pengantar untuk mengizinkanku mengikuti ujian khusus dengan nilai maksimal C. Tidak masalah hanya mendapat nilai maksimal C, yang penting lulus. Hanya saja masalah nya dosen pengampu mata kuliah ini bukan dari fakultas ku sendiri, melainkan dari fakultas seberang, Fakultas Agama Islam.

Harapanku satu, dosen pengampu memberi kebijakan dan kesempatan untukku mengikuti ujian. Jika pun pada akhirnya tidak ada kebijakan dan aku harus mengulang satu semester ini. ya sudahlah. Sekali lagi, mungkin itu yang terbaik. Mungkin itu jalan yang Allah berikan yang terbaik. Sungguh, ikhlas itu memang tidak mudah. Kuliah satu semester untuk nol sks. Tetapi aku bisa banyak belajar dari sini. Jangan pernah remehkan sesuatu yang (menurutmu) sepele.

21 tahun 29 hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar