Apakah di usia mu
sekarang kamu masih merasa belum menemukan passion
mu?
Waktu terus berjalan
tanpa harus menunggu. Kelahiran, masa anak-anak, remaja ‘sang pencari jati diri’
hingga pada akhir nya pada tahap dewasa dan tua.
Menemukan passion erat kaitannya dengan menemukan
jati diri dan biasanya dialami oleh remaja. Tetapi bagaimana jika sudah berusia
20 tahun-an merasa belum menemukan passion?
Sebenarnya kita lah yang paing tahu mengenai diri kita. Semakin bertambahnya
usia dan semakin banyak pengalaman yang kita lalui, kita semakin paham dan
mengerti diri kita, apa yang harus kita lakukan, mana yang baik dan mana yang
buruk, dan mana yang terbaik untuk kita.
Tapi mungkin ada satu
hal yang menghalangi itu semua. Mungkinkah kita terlalu takut? Kita terlalu
takut keluar dari zona nyaman ataukah kita selalu ragu dengan setiap pilihan
yang kita ambil. Hidup itu adalah pilihan. Salah jika orang bilang ‘aku gak ada
pilihan lain’. Pilihan itu tergantung kita. Apakah kita akan mengambil pililahan
yang baik atau pilihan yang buruk. Seberapa beranikah kita mengambil resiko?
Karena pada dasarnya setiap hal yang telah menjadi keputusan kita, ada
resikonya tersendiri.
Apakah kita teralu
takut dan ragu untuk memilih? Atau kah kita tidak pernah puas dengan pilihan
kita? Berkali-kali mencari passion,
berpetualang dengan berbagai hal kehidupan, tetapi pada akhirnya tidak pernah
merasa puas dengan pilihan sendiri? Hari ini bilang passion-mu A, berhari-hari, berbulan-bulan, kamu semangat dengan
hal yang kamu anggap passion-mu.
Tetapi jika pada dasarnya hati kecilmu belum ikhlas, maka kamu tidak akan pernah
puas. Maka kamu akan mencari ‘passion’
mu lagi. Kamu akan menganggap A tidak cocok dengan mu. Kamu berpetualang lagi
hingga kemudian kamu menggap B adalah passion-mu.
Akankah terus begitu? Selalu mencoba hal baru dan kamu tidak pernah merasa
puas? Ya, mungkin manusia memang tidak pernah merasa puas.
Tetapi sampai kapankah
akan terus ‘mencari’ seperti ini? Sampai tua? Sampai pada akhirnya menunggu
ajal menjemput? Mumpung masih muda, memang sangat wajar bagi kita untuk
menemukan sesuatu yang baru dan mempelajari banyak hal. Tetapi di satu sisi,
kita harus memahami diri kita sendiri, mau jadi apa kita kelak? Apa yang akan
terjadi pada diri kita dimasa yang akan datang? Akankah kita hanya menjadi
seseorang yang hanya ikut-ikutan ataukah kita akan menemukan diri kita yang
berbeda?
Kata ibu, yang kita
butuhkan adalah target. Kita harus memiliki target dari setiap langkah kita.
Keluar dari zona nyaman dan mencoba menggali potensi diri. Cari lah passion-mu mumpung masih muda. Tetapi
kamu harus memiliki target untuk diri sendiri. Coba lah banyak hal dan rasakan
apa yang paling menyenangkan dan membuatmu nyaman. Berilah batasan waktu untuk
diri sendiri sampai kapan mencari passion.
Jangan terlalu terhanyut hanya dalam hal ‘mencari’. Sekali lagi, targetkan
setiap langkah. Pada saat waktu itu tiba, yang kamu butuhkan hanya ikhlas. Kamu
harus konsisten dalam hal yang memang sudah menjadi passion-mu. Ikhlas menjalani hidup dengan usaha mu sendiri dan
memang jalan yang telah dipilihkan Tuhan. Sekali lagi, yang kamu butuh hanya
satu untuk passion, kamu yakin,
ikhlas dan bisa menerima apa yang memang sudah menjadi jalanmu. Sesederhana
itu.
Jangan lupa selalu
tuliskan resolusimu. Bagaimana cita-citamu sepuluh Tahun ke depan. Apa yang
ingin kamu capai selama satu tahun ini dan apa yang ingin kamu kerjakan setiap
bulan bahkan setiap harinya. Buatlah ‘future mapping-mu’ sendiri.
Aku menulis ini bukan
berarti aku membatasi diri untuk setiap hal baru dan hanya terfokus pada satu
hal yang sudah yakin dianggap passion.
Aku menulis ini karena aku pernah merasakan diposisi yang sama ketika aku
mencari passion. Dulu, aku adalah
seorang karateka di dojo KKI (Kushin Ryu M Karate-Do Indonesia).
Tetapi aku hanya bertahan hingga sabuk hijau. Aku rasa, aku hanya ingin
menambah ilmu dan pengetahuan di bidang lain, minimal aku menguasai
dasar-dasarnya. Setelah itu aku ingin mencoba hal baru, aku justru ‘banting
stir’ menjadi anggota tari. Merasakan sensasi tampil di atas panggung sebagai ‘penari’
pada acara pentas beberapa kali. Beberapa tahun setelah itu aku berhenti. Lagi dan
lagi aku ‘mencari’ hal yang memang membuat aku jatuh cinta. Aku mendaftarkan
diri menjadi anggota PMI. Tidak bertahan lama, aku mulai bosan dan merasa
jenuh. Aku berfikir mungkin aku ingin menjadi seorang aktivis. Aku bergabung
menjadi anggota BEM Fakultas. Disini aku belajar menjadi seorang pemimpin dan
sama seperti setiap organisasi lain yang aku ikuti, aku belajar memahami orang
lain.
Saat
itu yang aku rasa, aku hanya ingin menambah ilmu dan pengalaman tanpa berpikir apa
sebenarnya passion ku. Aku selalu
bersenang-senang dengan setiap hal yang aku lakukan. Selagi itu positif, aku
dengan senang hati melakukannya.
Semakin
aku bertambah umur, aku semakin berpikir bahwa pada satu titik aku harus
berhenti bermain. Pada satu titik aku harus fokus pada hal yang memang aku
cintai. Jalan hidup yang aku lalui, memberikan warna-warni indah dalam setiap
perjalanan ku. Aku bersyukur atas semua hal yang telah aku lalui dan ilmu yang
aku peroleh. Kata ayah, ‘setiap ilmu akan berguna, mungkin kamu tidak
merasakannya secara langsung saat ini, tetapi suatu saat pasti ilmu yang kamu
miliki akan berguna baik untuk dirimu sendiri atapun orang lain’.
Dari
semua itu, yang ingin aku lakukan saat ini dan masa yang akan datang, aku ingin
menjadi ‘guru’ bagi siapapun. Berbagi ilmu dan pengalaman yang aku peroleh.
Masa depan memang tidak
pernah pasti. Menuju masa depan dan mempersiapkan masa depan, itu beda. Sudah
sampai manakah target yang kau siapkan untuk menuju masa depan?
Dwi Ismayati
10 Januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar