Minggu, 10 Januari 2016

Passion??

Apakah di usia mu sekarang kamu masih merasa belum menemukan passion mu?

Waktu terus berjalan tanpa harus menunggu. Kelahiran, masa anak-anak, remaja ‘sang pencari jati diri’ hingga pada akhir nya pada tahap dewasa dan tua.
Menemukan passion erat kaitannya dengan menemukan jati diri dan biasanya dialami oleh remaja. Tetapi bagaimana jika sudah berusia 20 tahun-an merasa belum menemukan passion? Sebenarnya kita lah yang paing tahu mengenai diri kita. Semakin bertambahnya usia dan semakin banyak pengalaman yang kita lalui, kita semakin paham dan mengerti diri kita, apa yang harus kita lakukan, mana yang baik dan mana yang buruk, dan mana yang terbaik untuk kita.
Tapi mungkin ada satu hal yang menghalangi itu semua. Mungkinkah kita terlalu takut? Kita terlalu takut keluar dari zona nyaman ataukah kita selalu ragu dengan setiap pilihan yang kita ambil. Hidup itu adalah pilihan. Salah jika orang bilang ‘aku gak ada pilihan lain’. Pilihan itu tergantung kita. Apakah kita akan mengambil pililahan yang baik atau pilihan yang buruk. Seberapa beranikah kita mengambil resiko? Karena pada dasarnya setiap hal yang telah menjadi keputusan kita, ada resikonya tersendiri.
Apakah kita teralu takut dan ragu untuk memilih? Atau kah kita tidak pernah puas dengan pilihan kita? Berkali-kali mencari passion, berpetualang dengan berbagai hal kehidupan, tetapi pada akhirnya tidak pernah merasa puas dengan pilihan sendiri? Hari ini bilang passion-mu A, berhari-hari, berbulan-bulan, kamu semangat dengan hal yang kamu anggap passion-mu. Tetapi jika pada dasarnya hati kecilmu belum ikhlas, maka kamu tidak akan pernah puas. Maka kamu akan mencari ‘passion’ mu lagi. Kamu akan menganggap A tidak cocok dengan mu. Kamu berpetualang lagi hingga kemudian kamu menggap B adalah passion-mu. Akankah terus begitu? Selalu mencoba hal baru dan kamu tidak pernah merasa puas? Ya, mungkin manusia memang tidak pernah merasa puas.
Tetapi sampai kapankah akan terus ‘mencari’ seperti ini? Sampai tua? Sampai pada akhirnya menunggu ajal menjemput? Mumpung masih muda, memang sangat wajar bagi kita untuk menemukan sesuatu yang baru dan mempelajari banyak hal. Tetapi di satu sisi, kita harus memahami diri kita sendiri, mau jadi apa kita kelak? Apa yang akan terjadi pada diri kita dimasa yang akan datang? Akankah kita hanya menjadi seseorang yang hanya ikut-ikutan ataukah kita akan menemukan diri kita yang berbeda?
Kata ibu, yang kita butuhkan adalah target. Kita harus memiliki target dari setiap langkah kita. Keluar dari zona nyaman dan mencoba menggali potensi diri. Cari lah passion-mu mumpung masih muda. Tetapi kamu harus memiliki target untuk diri sendiri. Coba lah banyak hal dan rasakan apa yang paling menyenangkan dan membuatmu nyaman. Berilah batasan waktu untuk diri sendiri sampai kapan mencari passion. Jangan terlalu terhanyut hanya dalam hal ‘mencari’. Sekali lagi, targetkan setiap langkah. Pada saat waktu itu tiba, yang kamu butuhkan hanya ikhlas. Kamu harus konsisten dalam hal yang memang sudah menjadi passion-mu. Ikhlas menjalani hidup dengan usaha mu sendiri dan memang jalan yang telah dipilihkan Tuhan. Sekali lagi, yang kamu butuh hanya satu untuk passion, kamu yakin, ikhlas dan bisa menerima apa yang memang sudah menjadi jalanmu. Sesederhana itu.
Jangan lupa selalu tuliskan resolusimu. Bagaimana cita-citamu sepuluh Tahun ke depan. Apa yang ingin kamu capai selama satu tahun ini dan apa yang ingin kamu kerjakan setiap bulan bahkan setiap harinya. Buatlah ‘future mapping-mu’ sendiri.
Aku menulis ini bukan berarti aku membatasi diri untuk setiap hal baru dan hanya terfokus pada satu hal yang sudah yakin dianggap passion. Aku menulis ini karena aku pernah merasakan diposisi yang sama ketika aku mencari passion. Dulu, aku adalah seorang karateka di dojo KKI (Kushin Ryu M Karate-Do Indonesia). Tetapi aku hanya bertahan hingga sabuk hijau. Aku rasa, aku hanya ingin menambah ilmu dan pengetahuan di bidang lain, minimal aku menguasai dasar-dasarnya. Setelah itu aku ingin mencoba hal baru, aku justru ‘banting stir’ menjadi anggota tari. Merasakan sensasi tampil di atas panggung sebagai ‘penari’ pada acara pentas beberapa kali. Beberapa tahun setelah itu aku berhenti. Lagi dan lagi aku ‘mencari’ hal yang memang membuat aku jatuh cinta. Aku mendaftarkan diri menjadi anggota PMI. Tidak bertahan lama, aku mulai bosan dan merasa jenuh. Aku berfikir mungkin aku ingin menjadi seorang aktivis. Aku bergabung menjadi anggota BEM Fakultas. Disini aku belajar menjadi seorang pemimpin dan sama seperti setiap organisasi lain yang aku ikuti, aku belajar memahami orang lain.
Saat itu yang aku rasa, aku hanya ingin menambah ilmu dan pengalaman tanpa berpikir apa sebenarnya passion ku. Aku selalu bersenang-senang dengan setiap hal yang aku lakukan. Selagi itu positif, aku dengan senang hati melakukannya.
Semakin aku bertambah umur, aku semakin berpikir bahwa pada satu titik aku harus berhenti bermain. Pada satu titik aku harus fokus pada hal yang memang aku cintai. Jalan hidup yang aku lalui, memberikan warna-warni indah dalam setiap perjalanan ku. Aku bersyukur atas semua hal yang telah aku lalui dan ilmu yang aku peroleh. Kata ayah, ‘setiap ilmu akan berguna, mungkin kamu tidak merasakannya secara langsung saat ini, tetapi suatu saat pasti ilmu yang kamu miliki akan berguna baik untuk dirimu sendiri atapun orang lain’.
Dari semua itu, yang ingin aku lakukan saat ini dan masa yang akan datang, aku ingin menjadi ‘guru’ bagi siapapun. Berbagi ilmu dan pengalaman yang aku peroleh.
Masa depan memang tidak pernah pasti. Menuju masa depan dan mempersiapkan masa depan, itu beda. Sudah sampai manakah target yang kau siapkan untuk menuju masa depan?

Dwi Ismayati

10 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar