Dear….
Ibu….
Ini
surat kedua yang aku tulis untuk ibu setelah surat terakhirku 15 tahun yang
lalu. Saat jarak memisahkan kita. Saat aku dengan sabar menunggu ibu di kota
kecil Krui – Lampung Barat dan ibu sedang berjuang untukku di Kota Bandar
Lampung.
Kembali
jarak memisahkan kita. Sekarang saatnya aku berjuang untuk ibu di Kota
Yogyakarta dan ibu dengan sabar menunggu perjuanganku di kota kecil Krui.
Bu,
hari ini aku mengunjungi sebuah panti asuhan. Ditengah segala rutinitas dan
kesibukanku, entah kenapa kali ini aku ingin menulis tentangmu, bu. Betapa beruntungnya
aku masih memiliki seorang ibu. Memiliki seorang ibu seperti ibu.
Ibu,
usiaku kini 20 tahun sudah. Aku bukan seorang anak kecil lagi. Tetapi ibu tetap
setia mendengar setiap keluh kesahku, mendengar segala isi hatiku, mendengar
kegalauanku, mendengar setiap masalahku, mendengar setiap pengalamanku.
Bu,
terimakasih atas semua kepercayaan yang ibu berikan kepada ku. Kepercayaan
untuk membiarkanku merantau jauh. Terimakasih ibu telah percaya bahwa aku bisa
menjaga diri dengan baik. Insyaallah akan kujaga kepercayaan ibu.
“Nak.
Kamu merantau jauh disana yang diluar pantauan ibu. Bisa saja kamu berbohong
kepada ibu untuk setiap kegiatanmu. Tapi, kamu sudah besar nak, ibu percaya
kepadamu. Kamu mengerti mana baik dan mana buruk. Meskipun ibu melindungimu
dengan pagar betis sekalipun, jika niatmu buruk maka buruk pula kegiatanmu. Tetapi,
jika niatmu baik, sekalipun ibu bebas melepasmu, kamu akan tetap baik. Dan ibu
percaya, Allah selalu melindungi. Maka minta perlindungan kepada Allah.”
Bu,
terimakasih untuk setiap nasehat dari bibir lembutmu. Nasehat yang selalu
kuingat sebagai peganganku menjalani hidup, nasehat untuk memberi batasan untuk
diriku, nasehat untuk tetap selalu semangat. Aku selalu ingat nasehat itu, bu.
Terkadang
ada perasaan iriku melihat teman-teman yang ditemani oleh ibunya saat mereka
berjuang mengejar cita-cita. Saat aku mencoba tes tertulis STIS, SNMPTN tertulis,
tes tertulis poltekes dan tes tes perguruan tinggi lainnya. Ingin rasanya ibu
selalu disamping memelukku. Tetapi aku sadar, keadaan tidak memungkinkan. Ibu yang
jauh sana, di kota kecil krui, sedangkan aku di Bandar Lampung.
Begitupun
saat pertama kali aku akan merantau ke Jogja, ada keinginan kecilku bahwa ibu
setidaknya mengantar kepergianku. Setidaknya aku menciummu bu, mencium
tanganmu. Tetapi sekali lagi karena jarak yang memisahkan kita. Aku yang berada
di kota Metro saat itu langsung diantar ayah ke Jogja. Ibu mendoakan ku dari
kota krui yang jauh disana.
Tetapi
meskipun saat itu ibu tidak berada disampingku, suara ibu melalui telpon sudah
cukup memberiku semangat. Ibu, terimakasih untuk setiap doa dan dukunganmu.
“Nak,
maaf ibu tidak mengiringimu mengejar cita-citamu. Maaf ibu tidak mengantarmu
kesana kemari saat kamu test perguruan tinggi. Maaf ibu tidak ada di sampingmu.
Ada ayah yang menjagamu, ada kakakmu yang menemani. Kamu tahu alasan ibu tidak
bisa ikut menemanimu. Dan percayalah nak, doa dan restu ibu yang paling
penting. Doa dan restu ibu selalu menemani setiap perjalananmu.”
Kata-kata
ibu selalu menjadi semangat terbesarku. Doa ibu luar biasa. Aku percaya itu. Tanpa
doa dan restumu bu, aku bukanlah apa-apa. Ibu selalu total mendukungku. Alhamdulillah
karena doa ibu jugalah aku terima tes SNMPTN saat itu, meskipun bukan terima
pada program studi yang kuinginkan. Aku merengek kepada mu saat itu bu.
“Bu,
aku tidak ingin kuliah di program studi itu, meskipun itu perguruan tinggi
negeri. Meskipun itu universitas bagus. Aku hanya ingin program studi farmasi. Tolong
bu, meskipun pada akhirnya aku hanya kuliah di Perguruan Tinggi swasta. Tapi aku
akan mencari perguruan tinggi swasta yang bagus bu. Aku tahu ada salah satu universitas
yang memiliki program studi farmasi bagus di Jogja. Farmasinya sudah
terakreditasi A. Aku ingin tes disana bu, ibu tahu tidak semua perguruan tinggi
swasta itu buruk.”
Ketika
beberapa orang mencibir ibu, ketika beberapa orang mempengaruhiku. Tetapi ibu
tetap mengedepankan keinginan dan cita-citaku. Ibu dengan sabar menghadapi cibiran
orang. Saat aku rendah diri, setiap kata-kata ibu membuatku kembali percaya
diri.
“Sudahlah
nak. Tidak usah pikirkan apa kata orang. Mereka tidak mengerti hidupmu. Ini hidupmu,
kamu yang menjalani. Maka selalu jadilah seperti berlian. Berlian akan tetap
bersinar dimanapun berada, meski di dalam lumpur sekalipun.”
Bu,
terimakasih selalu menjadi obat terdahsyat saat aku sakit. Meski ibu jauh
disana, aku percaya doa ibu selalu menyertai. Terimakasih untuk selalu
mengingatkan kesehatanku. Dokter bilang aku harus minum obat ini, minum obat
itu. Cek ini, cek itu. Tapi ibu selalu memberiku semangat. Maafkan anakmu yang
selalu membuatmu khawatir.
Bu,
maafkan anakmu yang terlalu banyak keinginan. Maafkan anakmu yang sering
merepotkan. Entah bagaimanapun, ibu selalu berjuang untukku. Memenuhi setiap
keinginanku. Maaf aku selalu menjadi anak yang lemah dan manja. Maaf aku
terlalu sering mengeluh kepadamu, sedangkan ibu tidak pernah mengeluh dengan
segala macam perjuangan ibu untukku.
“Apapun
keinginanmu jika itu mendukung segala kegiatan positifmu, selagi ibu dan ayah
mampu akan diusahakan. Ibu percaya kamu jujur. Ingat nak, ibu dan ayah berjuang
juga untukmu disini. Ibu dan ayah banting tulang untukmu, untuk kakakmu dan
untuk adikmu. Tapi insyaallah ada saja rejeki untuk kalian sekolah.”
Bu,
Terimakasih telah menjadi seorang ibu yang luar biasa. Maafkan anakmu yang
sering menyakiti perasaanmu. Bukan sekali aku membuat ibu menangis, bukan
sekali aku membuat ibu sakit hati karena kata-kata dan perbuatanku. Maafkan aku
bu. Sungguh. Andaikan waktu bisa diulang. Tidak ingin aku menyakiti hatimu. Aku
tahu, ibu selalu memaafkanku meskipun aku tidak minta maaf. Tapi bu, permintaan
maafku pun tidak otomatis menghilangkan perasaan bersalahku.
Bu,
waktu terasa begitu cepat berlalu. Jujur, aku takut bu. Aku takut aku semakin
berumur, begitupun dengan ibu. Aku takut aku semakin sibuk. Aku takut waktuku
dengan ibu semakin berkurang. Aku takut semua akan semakin berbeda. Suatu saat
akan tiba saatnya aku lepas darimu, bu. Akan tiba saatnya aku menikah,
menjalani hidup baru dengan keluarga kecilku. Aku takut aku tidak bisa
membahagiakan mu, bu. Tapi percayalah bu, doa selalu aku panjatkan untukmu.
Ini
sudah angkatan ke-3 aku menjadi mahasiswa farmasi. Ibu bilang ini masih awal
perjuanganku sebagai mahasiswa. Akan banyak kesibukan menantiku mulai dari kkn,
skripsi dan sebagainya.
“Skripsi
itu baru awal perjuangan nak. Entah akan ada rintangan dan tantangan. Hanya kepada
Allah tempatmu meminta. Semoga tidak banyak cobaan dan rintangan dalam menyusun
skripsimu, akan dilancarkan penelitianmu,
Aku tahu ibu selalu dan selalu mendoakanku. Doa
terdahsyat darimu lah yang kuinginkan. Aku ingin menjadi seseorang yang ibu
harapkan. Aku ingin ibu bangga kepadaku. Dan yang paling terpenting, aku ingin
ibu selalu sehat dan tersenyum. Ibu selalu bahagia dunia dan akhirat. Doaku selalu
untukmu. Terimakasih telah menjadi ibu yang sempurna dimataku. Ibu motivasi
utamaku, ibu inspirasiku. Entah apa jadinya aku tanpa dirimu bu.
Salam
sayang dari jauh, anakmu
Yogyakarta,
03 Mei 2015

