Rabu, 08 Juli 2015

Php(?)

Php(?) Maaf, aku bukan php. Kita cermati arti Php, yaitu "Pemberi harapan palsu". Aku tidak pernah memberi mu harapan. Maaf jika menurut mu, aku telah memberi mu harapan. Aku tidak bermaksud untuk itu. Kamu bilang aku cuek, jutek atau apapun kamu mendeskripsikan tentang ku. Ya beginilah aku, sifat ku dan segala kekurangan ku. Maaf, aku tidak bermaksud sombong. Aku hanya belajar bersikap tegas. Aku belajar menjaga diri. Aku memang bukanlah seorang yang suci. Aku juga bukan seorang wanita sempurna. Tapi aku sedang belajar menjadi seseorang yang lebih baik.
Terimakasih telah peduli terhadap ku. Kuberikan dua pilihan untuk mencintai ku. Halalkan atau tinggalkan. Jika kamu belum siap untuk menjadikan ku kekasih halal mu, lebih baik kita sendiri dulu. Mendekatkan diri kepada Sang Maha Cinta. Allah tahu yang terbaik untuk kita. Jujur, untuk sekarang aku memang belum siap melangkah ke jenjang yang lebih serius. Masih banyak yang harus aku perbaiki, masih banyak hal yang harus aku pelajari. Kita sama-sama memantaskan diri. Agar kelak aku bisa menjadi seorang istri yang sholehah dan seorang ibu yang baik. Biarlah Allah yang menjadi "mak comblang" dalam kisah cintaku.
Aku sangat menghargai cinta. Akupun pernah jatuh cinta. Bahkan aku pernah salah dalam memaknai dan menempatkan cinta.
Aku memang pernah berpacaran seperti remaja pada umumnya. Tapi sekarang aku menyadari bahwa manfaat pacaran tidak lebih banyak daripada mudharatnya. Aku banyak belajar dari masa lalu.
Cinta itu apa? Apakah cinta itu berubah-ubah? Sebelumnya mengatakan cinta dengan A, kemudian pacaran dan putus. Jatuh cinta lagi dengan B, pacaran lagi lalu putus lagi. Seperti itu kah cinta? Tidak bisakah kita jatuh cinta berulang-ulang dan berkali-kali hanya dengan satu orang saja(?)
Bagiku cinta memang sulit untuk dijelaskan. Hari ini kamu bilang cinta, boleh jadi esok lusa kamu bilang sudah tidak cinta lagi.
Perasaan manusia begitu rumit, sulit ditebak. Terkadang aku heran dengan orang-orang yang begitu cepat jatuh cinta dan begitu cepat melupakan.
Jujur, aku memang sedang belajar memahami cinta yang sesungguhnya.
Aku memang sulit untuk jatuh cinta dan begitu sulit pula untuk melupakan.
Tapi aku sadar, hati sesorang siapa yang tahu. Allah-lah menitipkan perasaan ini. Karena itu aku lebih memilih untuk mencintai Allah sebelum melabuhkan cinta ini kepada hamba-Nya.
Aku takut sekali rasa cinta ku terhadap manusia lebih besar dari pada rasa cinta ku kepada Allah.
Diusiaku yang terbilang bukan remaja lagi, aku belajar untuk menjadi lebih dewasa. Semua memang butuh proses.
Aku malas jatuh cinta lagi dengan orang baru. Sekarang aku memang tidak mencintai mu. Tapi apalah daya, hati ini milik Allah. Jika Allah berkehendak, apapun bisa terjadi.
Aku sangat ingin suatu saat kelak mendapatkan suami yang sholeh, mencintai ku karena Allah dan dapat membimbing ku menuju surga-Nya. "
Dan lagi aku sadar, bukan kah jodoh itu adalah cerminan diri? Bagaimana modal ku untuk mendapatkan jodoh yang baik? Apakah aku sudah baik? Tentu masih banyak hal yang harus aku perbaiki.
Aku percaya janji Allah. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik dan begitu sebaliknya.
Semoga kita semua mendapatkan jodoh yang terbaik. Jodoh dunia akhirat^^
~dwi ismayati~

Rabu, 01 Juli 2015

Ayah..



Ayah..
Bukan sekali aku menyakiti hati ayah, bukan sekali aku tidak terima nasehat ayah, dan bukan sekali aku membantah perkataan dan permintaan ayah. Padahal setiap nasehat ayah itu baik untukku, baik untuk hidupku, dan baik untuk agamaku. Maafkan aku yang terlalu egois dan manja. Maafkan aku yang terlalu menuntut dan terlalu banyak keinginan. Maafkan aku yang sering tidak sependapat dengan ayah. Maafkan aku yang sering tidak menerima kritikan dan saran dari ayah.
Karakter ayah yang bersifat keras mendidik untuk berani dan bersikap tegas. Kritikan dan nasehat ayah yang membangunku untuk menjadi seorang yang mandiri. Meskipun aku masih tetap menjadi ‘tuan putri’ mu yang manja. Aku bersyukur memiliki seorang ‘ayah’ seperti ayah. Aku begitu beruntung karena masih memiliki seorang ayah, karena tidak semua anak seberuntung diriku.
Malam itu aku mendengar kabar bahwa seorang temanku baru saja kehilangan ayahnya. Seketika dengan erat aku memeluk ayah. Aku tidak ingin kehilangan ayah. Tidak terasa butiran lembut dari mataku jatuh membasahi pipi. Tidak ada yang tahu usia manusia. Aku yakin pasti sangat menyakitkan ketika tidak sempat melihat jasad ayah untuk terakhir kali karena terkendala jarak. Aku yang hanyalah seorang temannya justru menyaksikan secara langsung saat ayahnya dikebumikan, sedangkan dia sedang dalam perjalanan pulang. Aku tahu, itu sangat menyakitkan. Seandainya aku yang berada pada posisi itu, entah bagaimana aku menerima kenyataan. Aku semakin sadar betapa pentingnya seorang ayah.
Tidak hanya itu yang membuatku semakin merasa beruntung. Di sini pada kegiatanku pendampingan TPA, tidak sedikit santri yang merupakan anak yatim. Sungguh, aku semakin merasa beruntung karena memiliki ayah. Mereka yang masih kecil dan masih haus akan kasih sayang orang tua, tetapi tidak mereka dapatkan. Belum lagi beberapa anak yang tidak dipedulikan oleh ayah mereka, ditelantarkan dan ditinggal pergi entah kemana. Sekalinya ayahnya pulang, sang anak justru sering dipukuli. Teriris hati melihat kenyataan ini.
Aku selama ini memang kurang bersyukur dengan apa yang aku miliki. Memiliki orang tua seperti ayah dan ibu adalah sebuah anugerah yang luar biasa dan tak ternilai harganya.
Disisa umurku yang masih diberi Allah waktu dan kesempatan, aku ingin membahagiakan ayah. Dalam sujudku, aku memohon kepadaNya untuk kebaikan ayah. Agar ayah selalu diberi kesehatan dan suatu saat dapat dengan bangga melihat kesuksesanku. Aku pun berdoa semoga setiap anak juga merasakan kasih sayang dari seorang ayah.
Ismayati