Rabu, 01 Juli 2015

Ayah..



Ayah..
Bukan sekali aku menyakiti hati ayah, bukan sekali aku tidak terima nasehat ayah, dan bukan sekali aku membantah perkataan dan permintaan ayah. Padahal setiap nasehat ayah itu baik untukku, baik untuk hidupku, dan baik untuk agamaku. Maafkan aku yang terlalu egois dan manja. Maafkan aku yang terlalu menuntut dan terlalu banyak keinginan. Maafkan aku yang sering tidak sependapat dengan ayah. Maafkan aku yang sering tidak menerima kritikan dan saran dari ayah.
Karakter ayah yang bersifat keras mendidik untuk berani dan bersikap tegas. Kritikan dan nasehat ayah yang membangunku untuk menjadi seorang yang mandiri. Meskipun aku masih tetap menjadi ‘tuan putri’ mu yang manja. Aku bersyukur memiliki seorang ‘ayah’ seperti ayah. Aku begitu beruntung karena masih memiliki seorang ayah, karena tidak semua anak seberuntung diriku.
Malam itu aku mendengar kabar bahwa seorang temanku baru saja kehilangan ayahnya. Seketika dengan erat aku memeluk ayah. Aku tidak ingin kehilangan ayah. Tidak terasa butiran lembut dari mataku jatuh membasahi pipi. Tidak ada yang tahu usia manusia. Aku yakin pasti sangat menyakitkan ketika tidak sempat melihat jasad ayah untuk terakhir kali karena terkendala jarak. Aku yang hanyalah seorang temannya justru menyaksikan secara langsung saat ayahnya dikebumikan, sedangkan dia sedang dalam perjalanan pulang. Aku tahu, itu sangat menyakitkan. Seandainya aku yang berada pada posisi itu, entah bagaimana aku menerima kenyataan. Aku semakin sadar betapa pentingnya seorang ayah.
Tidak hanya itu yang membuatku semakin merasa beruntung. Di sini pada kegiatanku pendampingan TPA, tidak sedikit santri yang merupakan anak yatim. Sungguh, aku semakin merasa beruntung karena memiliki ayah. Mereka yang masih kecil dan masih haus akan kasih sayang orang tua, tetapi tidak mereka dapatkan. Belum lagi beberapa anak yang tidak dipedulikan oleh ayah mereka, ditelantarkan dan ditinggal pergi entah kemana. Sekalinya ayahnya pulang, sang anak justru sering dipukuli. Teriris hati melihat kenyataan ini.
Aku selama ini memang kurang bersyukur dengan apa yang aku miliki. Memiliki orang tua seperti ayah dan ibu adalah sebuah anugerah yang luar biasa dan tak ternilai harganya.
Disisa umurku yang masih diberi Allah waktu dan kesempatan, aku ingin membahagiakan ayah. Dalam sujudku, aku memohon kepadaNya untuk kebaikan ayah. Agar ayah selalu diberi kesehatan dan suatu saat dapat dengan bangga melihat kesuksesanku. Aku pun berdoa semoga setiap anak juga merasakan kasih sayang dari seorang ayah.
Ismayati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar