19 Juni 2015 – Ramadhan
– Bersyukur bersama mereka
Malam ke-3 ramadhan di
lokasi ini. Kembali, aku dan beberapa rekan-rekanku melaksanakan ibadah tarawih
di dalam sebuah gedung kecil kosong dengan beralaskan tikar. Masih sama seperti
malam-malam sebelumnya, sholat berjamaah bersama sebagian besar anak-anak. Malam
ini aku mendapat giliran sebagai imam dalam melaksanakan tarawih. Awalnya
sempat terlintas dalam pikiran. Sanggupkah aku menjadi imam malam ini bersama
jamaah anak-anak yang luar biasa hiperaktif ini? Masihkah anak-anak ini
loncat-loncat ke punggung imam pada saat sholat? Masihkah mereka teriak-teriak sambil
berlari kesana kemari saat sholat? Terutama suara jeritan anak laki-laki yang begitu kerasnya melengking hingga menyakiti telinga mendengarnya. Berbagai dugaan terlintas di otakku. Tapi ternyata
aku salah. Malam ini, anak-anak semakin tenang dalam sholat. Tidak ada lagi
anak-anak yang berlari sana sini seperti malam-malam sebelumnya, terutama pada
saat malam pertama tarawih dimana anak-anak begitu hebohnya. Ya, memang masih ada
beberapa anak yang pada saat sholat sambil tertawa, entah apa yang
ditertawakan.
Trik ‘bintang anak
sholeh’ cukup berhasil untuk meng-handle anak-anak ini. Dengan cara memberikan
bintang untuk anak-anak baik dan tidak bermain pada saat sholat, ternyata cukup
efektif. Mereka berlomba-lomba menjadi anak baik agar mendapat bintang anak sholeh,
dengan iming-iming hadiah.
Anak-anak memang ibarat
kertas putih, masih belum paham mana yang benar dan mana yang salah. Bersih. Kitalah
orang dewasa yang seharusnya mendidik mereka menjadi lebih baik. Kitalah yang
seharusnya membimbing mereka, bagaimana melukis kertas putih tersebut. Apakah dengan
kebaikan, ataukah dengan keburukan. Anak-anak memang membutuhkan perhatian dan
kasih sayang.
Untuk anak-anak seusia
mereka, wajar apabila masih banyak melakukan kesalahan. Kita yang sudah dewasa
dan mengerti sudah sepatutnyalah membimbing dan mengarahkan mereka untuk
menjadi lebih baik. Pada awalnya memang terasa berat. Tetapi pelan-pelan,
semakin kita mengenal anak-anak, memahami dunia mereka, mengerti keinginan
mereka, rasanya semakin nyaman berada bersama mereka. Belajar mengenal dunia
mereka, bagaimana latarbelakang mereka. Disinilah aku baru mengetahui beberapa
anak-anak ini adalah anak yatim piatu. Ada anak yang orang tuanya sudah
meninggal dunia, ada pula anak yang ibunya pergi entah kemana. Tersentuh hatiku
mengetahui latar belakang kehidupan mereka.
Anak-anak memang sangat
butuh perhatian. Terutama untuk anak-anak yang telah kehilangan ayah dan ibu
mereka. Beberapa diantara mereka yang masih sangat dini sudah harus menjadi
anak yatim. Bagaimana tidak, anak-anak sesuai mereka yang masih haus akan kasih
sayang dari orang tua dan perhatian tetapi
justru tidak mendapatkannya. Itulah kenapa saat kehadiran kami disini, ada-ada
saja kelakuan anak-anak ini untuk menarik perhatian.
Kurang lebih 2 minggu
bersama mereka, aku semakin banyak belajar dari mereka. Setiap anak mempunyai
latar belakang yang berbeda, kehidupan masa kecil yang berbeda. Setelah mengenal
mereka, aku menjadi semakin bersyukur. Tidak semua anak beruntung masih
mempunyai orangtua. Tidak semua anak beruntung selalu diperhatikan oleh orang
tua.
Terimakasih ‘anak-anakku’.
Kalian menyukai kehadiran kami disini. Walaupun pada awalnya tidak mudah untuk
kita saling bersatu. Terimakasih sudah perhatian terhadapaku. Menelponku saat
aku datang terlambat TPA. Menanyakan keberadaanku saat aku absen tidak hadir
belajar bersama kalian. Terimakasih sudah menjadi ‘anak baik’. Seterusnya jangan
‘bandel’ laginya. Selamanya harus selalu begitu.
Selama berada disini, aku
tidak berharap lebih bagaimana pandangan warga atas kehadiran kami. Apakah
warga sekitar masih tidak menyukai atau menyukai kehadiran kami. Aku dan
rekan-rekan berusaha semampu dan semaksimal mungkin membantu anak-anak. Memberikan
perhatian, bermain, belajar, mengaji, menyanyi, bercerita, dan lain sebagainya.
Hari demi hari terasa semakin akrab dengan mereka.
Kita mungkin tidak bisa
merubah dunia di sekitar kita, tapi kita bisa merubah diri kita sendiri. Kita mungkin
kesulitan meluruskan persepsi orang-orang tentang diri kita, tapi kita bisa
meluruskan persepsi kita tentang mereka. Karena nya, aku belajar untuk
memulainya dari diri sendiri.
Dwi Ismayati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar