Sabtu, 02 Mei 2015

Surat untuk ibu



Dear…. Ibu….
Ini surat kedua yang aku tulis untuk ibu setelah surat terakhirku 15 tahun yang lalu. Saat jarak memisahkan kita. Saat aku dengan sabar menunggu ibu di kota kecil Krui – Lampung Barat dan ibu sedang berjuang untukku di Kota Bandar Lampung.
Kembali jarak memisahkan kita. Sekarang saatnya aku berjuang untuk ibu di Kota Yogyakarta dan ibu dengan sabar menunggu perjuanganku di kota kecil Krui.
Bu, hari ini aku mengunjungi sebuah panti asuhan. Ditengah segala rutinitas dan kesibukanku, entah kenapa kali ini aku ingin menulis tentangmu, bu. Betapa beruntungnya aku masih memiliki seorang ibu. Memiliki seorang ibu seperti ibu.
Ibu, usiaku kini 20 tahun sudah. Aku bukan seorang anak kecil lagi. Tetapi ibu tetap setia mendengar setiap keluh kesahku, mendengar segala isi hatiku, mendengar kegalauanku, mendengar setiap masalahku, mendengar setiap pengalamanku.
Bu, terimakasih atas semua kepercayaan yang ibu berikan kepada ku. Kepercayaan untuk membiarkanku merantau jauh. Terimakasih ibu telah percaya bahwa aku bisa menjaga diri dengan baik. Insyaallah akan kujaga kepercayaan ibu.
“Nak. Kamu merantau jauh disana yang diluar pantauan ibu. Bisa saja kamu berbohong kepada ibu untuk setiap kegiatanmu. Tapi, kamu sudah besar nak, ibu percaya kepadamu. Kamu mengerti mana baik dan mana buruk. Meskipun ibu melindungimu dengan pagar betis sekalipun, jika niatmu buruk maka buruk pula kegiatanmu. Tetapi, jika niatmu baik, sekalipun ibu bebas melepasmu, kamu akan tetap baik. Dan ibu percaya, Allah selalu melindungi. Maka minta perlindungan kepada Allah.”
Bu, terimakasih untuk setiap nasehat dari bibir lembutmu. Nasehat yang selalu kuingat sebagai peganganku menjalani hidup, nasehat untuk memberi batasan untuk diriku, nasehat untuk tetap selalu semangat. Aku selalu ingat nasehat itu, bu.
Terkadang ada perasaan iriku melihat teman-teman yang ditemani oleh ibunya saat mereka berjuang mengejar cita-cita. Saat aku mencoba tes tertulis STIS, SNMPTN tertulis, tes tertulis poltekes dan tes tes perguruan tinggi lainnya. Ingin rasanya ibu selalu disamping memelukku. Tetapi aku sadar, keadaan tidak memungkinkan. Ibu yang jauh sana, di kota kecil krui, sedangkan aku di Bandar Lampung.
Begitupun saat pertama kali aku akan merantau ke Jogja, ada keinginan kecilku bahwa ibu setidaknya mengantar kepergianku. Setidaknya aku menciummu bu, mencium tanganmu. Tetapi sekali lagi karena jarak yang memisahkan kita. Aku yang berada di kota Metro saat itu langsung diantar ayah ke Jogja. Ibu mendoakan ku dari kota krui yang jauh disana.
Tetapi meskipun saat itu ibu tidak berada disampingku, suara ibu melalui telpon sudah cukup memberiku semangat. Ibu, terimakasih untuk setiap doa dan dukunganmu.
“Nak, maaf ibu tidak mengiringimu mengejar cita-citamu. Maaf ibu tidak mengantarmu kesana kemari saat kamu test perguruan tinggi. Maaf ibu tidak ada di sampingmu. Ada ayah yang menjagamu, ada kakakmu yang menemani. Kamu tahu alasan ibu tidak bisa ikut menemanimu. Dan percayalah nak, doa dan restu ibu yang paling penting. Doa dan restu ibu selalu menemani setiap perjalananmu.”
Kata-kata ibu selalu menjadi semangat terbesarku. Doa ibu luar biasa. Aku percaya itu. Tanpa doa dan restumu bu, aku bukanlah apa-apa. Ibu selalu total mendukungku. Alhamdulillah karena doa ibu jugalah aku terima tes SNMPTN saat itu, meskipun bukan terima pada program studi yang kuinginkan. Aku merengek kepada mu saat itu bu.
“Bu, aku tidak ingin kuliah di program studi itu, meskipun itu perguruan tinggi negeri. Meskipun itu universitas bagus. Aku hanya ingin program studi farmasi. Tolong bu, meskipun pada akhirnya aku hanya kuliah di Perguruan Tinggi swasta. Tapi aku akan mencari perguruan tinggi swasta yang bagus bu. Aku tahu ada salah satu universitas yang memiliki program studi farmasi bagus di Jogja. Farmasinya sudah terakreditasi A. Aku ingin tes disana bu, ibu tahu tidak semua perguruan tinggi swasta itu buruk.”  
Ketika beberapa orang mencibir ibu, ketika beberapa orang mempengaruhiku. Tetapi ibu tetap mengedepankan keinginan dan cita-citaku. Ibu dengan sabar menghadapi cibiran orang. Saat aku rendah diri, setiap kata-kata ibu membuatku kembali percaya diri.
“Sudahlah nak. Tidak usah pikirkan apa kata orang. Mereka tidak mengerti hidupmu. Ini hidupmu, kamu yang menjalani. Maka selalu jadilah seperti berlian. Berlian akan tetap bersinar dimanapun berada, meski di dalam lumpur sekalipun.”
Bu, terimakasih selalu menjadi obat terdahsyat saat aku sakit. Meski ibu jauh disana, aku percaya doa ibu selalu menyertai. Terimakasih untuk selalu mengingatkan kesehatanku. Dokter bilang aku harus minum obat ini, minum obat itu. Cek ini, cek itu. Tapi ibu selalu memberiku semangat. Maafkan anakmu yang selalu membuatmu khawatir.
Bu, maafkan anakmu yang terlalu banyak keinginan. Maafkan anakmu yang sering merepotkan. Entah bagaimanapun, ibu selalu berjuang untukku. Memenuhi setiap keinginanku. Maaf aku selalu menjadi anak yang lemah dan manja. Maaf aku terlalu sering mengeluh kepadamu, sedangkan ibu tidak pernah mengeluh dengan segala macam perjuangan ibu untukku.
“Apapun keinginanmu jika itu mendukung segala kegiatan positifmu, selagi ibu dan ayah mampu akan diusahakan. Ibu percaya kamu jujur. Ingat nak, ibu dan ayah berjuang juga untukmu disini. Ibu dan ayah banting tulang untukmu, untuk kakakmu dan untuk adikmu. Tapi insyaallah ada saja rejeki untuk kalian sekolah.”
Bu, Terimakasih telah menjadi seorang ibu yang luar biasa. Maafkan anakmu yang sering menyakiti perasaanmu. Bukan sekali aku membuat ibu menangis, bukan sekali aku membuat ibu sakit hati karena kata-kata dan perbuatanku. Maafkan aku bu. Sungguh. Andaikan waktu bisa diulang. Tidak ingin aku menyakiti hatimu. Aku tahu, ibu selalu memaafkanku meskipun aku tidak minta maaf. Tapi bu, permintaan maafku pun tidak otomatis menghilangkan perasaan bersalahku.
Bu, waktu terasa begitu cepat berlalu. Jujur, aku takut bu. Aku takut aku semakin berumur, begitupun dengan ibu. Aku takut aku semakin sibuk. Aku takut waktuku dengan ibu semakin berkurang. Aku takut semua akan semakin berbeda. Suatu saat akan tiba saatnya aku lepas darimu, bu. Akan tiba saatnya aku menikah, menjalani hidup baru dengan keluarga kecilku. Aku takut aku tidak bisa membahagiakan mu, bu. Tapi percayalah bu, doa selalu aku panjatkan untukmu.
Ini sudah angkatan ke-3 aku menjadi mahasiswa farmasi. Ibu bilang ini masih awal perjuanganku sebagai mahasiswa. Akan banyak kesibukan menantiku mulai dari kkn, skripsi dan sebagainya.
“Skripsi itu baru awal perjuangan nak. Entah akan ada rintangan dan tantangan. Hanya kepada Allah tempatmu meminta. Semoga tidak banyak cobaan dan rintangan dalam menyusun skripsimu, akan dilancarkan penelitianmu,
 Aku tahu ibu selalu dan selalu mendoakanku. Doa terdahsyat darimu lah yang kuinginkan. Aku ingin menjadi seseorang yang ibu harapkan. Aku ingin ibu bangga kepadaku. Dan yang paling terpenting, aku ingin ibu selalu sehat dan tersenyum. Ibu selalu bahagia dunia dan akhirat. Doaku selalu untukmu. Terimakasih telah menjadi ibu yang sempurna dimataku. Ibu motivasi utamaku, ibu inspirasiku. Entah apa jadinya aku tanpa dirimu bu.

Salam sayang dari jauh, anakmu
Yogyakarta, 03 Mei 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar