Mungkin aku lupa
hakikat kehidupan. Kenapa aku hidup? Kenapa aku dilahirkan? Dan kenapa aku ada
di dunia ini? Entah apa itu kehidupan.
Kita hidup untuk mati. Kita hidup untuk kembali dan pulang kepada-Nya. Kita
hidup bukan untuk membuat semua orang bahagia, tetapi kita hidup agar kita
berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Sebaik apapun perbuatan kita, belum
tentu semua orang akan berkomentar baik tentang kita. Bukankah memang begitu
kehidupan? Kita hidup, kita yang menjalani-baik buruk nya. Setiap orang
mempunyai hak nya masing-masing berkomentar atas hidup orang lain.
Orang bijak bilang; “Sebaik
apapun orang lain menilai tentang kita, hanya kitalah yang paling tahu apakah
memang kita sebaik itu. Pun sebaliknya, seburuk apapun orang lain menilai kita,
hanya kita jugalah yang paling tahu apakah memang kita seburuk itu.”
Kita hidup untuk
kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Lantas kenapa kita mempersulit hidup
kita sendiri?
Terkadang aku terlalu
berambisi sehingga aku lupa bahwa aku telah jauh melewati batas. Kata ayah, mempunyai
ambisi yang besar memang bagus, tetapi juga harus tahu bagaimana kemampuan
diri.
Banyak hal yang ingin
aku kejar, banyak pengalaman yang ingin aku lalui, pun banyak prestasi yang
ingin aku capai. Sungguh manusia tidak pernah puas. Memiliki rasa ambisi yang
tinggi memang bagus untuk pengembangan diri, tetapi terkadang hal tersebut
justru membuat aku lupa untuk bersyukur. Aku lupa bahwa segala sesuatu sudah
menjadi ketentuan-Nya.
Aku memang bukan
seseorang yang fokus. Kepribadianku buruk, aku terlalu mudah goyah dan gampang
terpengaruh terhadap lingkungan.
Diusiaku yang terbilang
bukan remaja lagi, sudah sepatutnya aku mengerti baik dan buruk. Aku bukan lagi
seorang abg yang sedang sibuk mencari
jati diri dan ingin mencoba banyak hal. Selalu penasaran dengan hal-hal yang
menarik perhatian. Aku seharusnya sudah fokus untuk menata kehidupan di masa
depan kelak. Tidak selamanya aku seperti ini, selalu bersama orang tua. Kata
ayah, suatu hari nanti akan tiba saatnya aku menjadi orang tua, mengahadapi
kehidupan nyata, bertanggungjawab akan banyak hal dan lain sebagainya. Sebelum
hari itu tiba, sudah sepatutnya aku mempersiapkan diri.
Hakikatnya, hidup itu
sederhana. Tetapi terkadang manusia lah yang membuatnya terlihat rumit.
Kebahagiaan terbesar
dalam hidup ini adalah ketika kita bisa memberi sesuatu untuk orang lain. Ketika
kita terlahir, kita menangis dan semua orang tersenyum. Maka, jalanilah hidup
dengan sebaik-baiknya agar saat kita tiada, kita tersenyum dan semua orang
menangis.
Dwi Ismayati
Yogyakarta, 11 Januari
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar