Minggu, 03 Januari 2016

- Entahlah -

Bolehkah aku sedih, kecewa, bahkan marah? Bolehkah aku menyesal? Tapi satu hal yang pasti, aku tidak boleh menyerah. Aku hanya ingin  menulis sedikit pengalaman awal menuju ‘skripsi’. Mungkin kelak ini akan menjadi kenangan indah dari salah satu perjuangan.
Bagi seorang mahasiswi tingkat akhir seperti ku, mungkin memang semua terasa menjemukan. Bosan. Ingin rasanya segera lulus.
Aku tahu ini barulah awal. Kedepannya akan banyak tantangan yang lain lagi. Tetapi, bukankah hidup memang adalah tentang awal. Setiap satu hal terselesaikan, hal lainnya siap menunggu untuk diselesaikan. Pun jika ini semua selesai, maka akan ada awal yang baru (lagi).
Orang bijak bilang. Tak usah lah kau melirik rumput tetangga yang (kelihatannya) lebih hijau. Tapi bagiku rumput tetangga memang (sedikit lebih) hijau.
Awal liburan semester 6 masuk semester 7, aku sudah berfikir tentang skripsi. Sudah ku relakan masa liburanku di rumah hanya berkutat dengan menghubungi dosen sana-sini untuk mencari proyek dosen. Harapannya, jika aku ikut proyek dosen, aku bisa memulai penelitian lebih dulu meskipun belum seminar proposal. Selain itu jika aku mengikuti proyek, aku tidak merasa sendirian. Ada rekan lain sebagai tim dalam proyek. Hanya satu minggu di rumah, aku buru-buru kembali ke Jogja dan cari proyek dosen secara langsung. Padahal liburan semester masih satu bulan.
Setelah beberapa hari bolak-balik kampus, akhirnya aku mendapatkan proyek yang aku inginkan sesuai harapan. Penelitian klinis di Rumah Sakit. Aku sangat antusias saat dosen bersedia bekerja sama denganku untuk menyelesaikan proyek penelitian ini. Aku harap, aku bisa maksimal menjalankan proyek ini bersama rekanku, Eryona.
Tetapi setiap harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Berita mengenai aku mendapatkan proyek klinis tersebar di beberapa teman yang juga sedang mencari proyek dosen. Berita dari mulut ke mulut mengenai proyek klinis ini semakin tidak bisa di bendung. Mereka bagaikan air bah yang tumpah, semakin lama semakin ramai yang membicarakan proyek ini. Tiba-tiba aku mempunyai firasat buruk. Ada sedikit perasaan khawatir di hati. Ah, mungkin aku terlalu khawatir.
Tapi apalah daya ketika kekhawatiranku menjadi kenyataan. Mereka berbondong-bondong menghubungi dosen yang bersangkutan dan dengan terang-terangan ingin bekontribusi dalam proyek ini. Aku harap kehadiran mereka tidak mengganggu proyek(ku). Aku yang pertama mengikuti proyek ini, aku yang pertama mendapat persetujuan dosen mengenai proyek ini. Aku yakin aku bisa lanjut dengan proyek ini dengan baik.
Tapi ternyata aku salah, semakin banyak mahasiswa datang yang ingin mengambil proyek ini. Sekitar belasan mahasiswa mencari dosen (proyekku) untuk ikut mendaftar. Sedangkan proyek ini hanya membutuhkan empat mahasiswa. Pada akhirnya dosen memberi kebijakan untuk diadakan seleksi nilai. Tentu nilai ku kalah dibandingkan dengan mereka yang IPK-nya cumlaude. Nilaiku bukanlah apa-apa. IPK-ku masih bertahan menyentuh nilai 3 saja aku sudah bersyukur.
Pada akhirnya aku tersingkir dari proyek(ku) sendiri. Proyek penelitian yang sangat aku harapkan sejak awal. Dari sekian banyak proyek dosen, kenapa harus aku yang tersingkirkan diproyek(ku)? Justru aku dan Eryona yang pada akhirnya pergi dari proyek ini.
Begitu banyak proyek dosen, begitu banyak mahasiswa yang masih mengikuti proyek dosen lain yang bahkan IP mereka (maaf) di bawah nilai 3. Lalu kenapa harus proyek ini yang mereka kejar? Kenapa harus aku?
Sungguh, rasa sakit itu masih terasa. Tapi di sinilah aku harus belajar ikhlas. Tidak ada yang bisa kusalahkan di sini. Mungkin ini bukan jalanku. Mungkin ini bukan yang terbaik untukku.
Hidup harus maju bagaimana pun caranya. Aku berfikir untuk judulku (sendiri) yang baru. Meskipun aku belum siap untuk maju sendirian. Karena aku benci sendirian. Aku benci melakukan semua hal tanpa ada seseorang di sampingku. Sedangkan proyek? Aku punya rekan lain yang bisa mengambil data.
Pada akhirnya aku putuskan untuk mengambil skripsi berkelompok, tetap dengan rekan seperjuanganku. Eryona. Rekan proyek (dulu) yang akhirnya sama-sama tersingkir dari proyek. Rekan yang sama-sama merelakan waktu liburan hanya untuk sekadar proyek. Ah sudahlah. Berhenti membahas proyek itu. Paling tidak aku masih punya rekan dan aku tidak sendirian.
Waktu berlalu, aku mengajukan judul skripsi baru dan dosen pembimbing baru, beruntungnya tanpa menunggu waktu lama aku langsung mendapatkan acc dari pihak fakultas. Aku harap aku bisa fokus dengan judul skripsi (baru) ini. Harapannya, cepat maju seminar proposal.
Tapi lagi-lagi, mungkin ini bukan yang terbaik untukku. Setelah aku menyelesaikan proposal awal penelitian bab 1 sampai bab 3, ternyata ada pertimbangan lain dari judul skripsi ku. Dikhawatirkan data yang akan aku ambil akan bias jika lanjut penelitian ini, atau penelitian ini akan memakan dana yang sangat mahal.
Singkat cerita, aku harus ganti judul baru (lagi). Memikirkan judul (lagi), membuat proposal skripsi (lagi). Tapi semangatku tidak berhenti di sini. Ini saja belum berawal, bagaimana mungkin aku bisa berhenti?
Beberapa waktu aku memikirkan judul skripsi (baru). Beruntungnya judul baru ku segera mendapat acc dari dosen pembimbing. Tanpa membuang waktu, kugarap proposal skripsi secepatnya. Dengan setia aku selalu menghubungi dosen pembimbing untuk bimbingan dan revisi terus menerus.
Setelah empat kali revisi, akhirnya aku siap untuk maju seminar proposal. Prosesku menuju seminar proposal terbilang cepat dibandingkan teman-teman. Terutama jika dilihat dari proses yang kujalani.
Aku rela tidak menghadiri wisuda kakakku satu-satunya saat itu demi maju seminar. Aku harap pengorbananku tidak ada yang sia-sia.
Sedikitpun, aku tidak merasa bangga karena aku seminar lebih dulu dibandingkan teman-teman dekatku. Karena aku tahu, ini baru awal (lagi). Aku seminar lebih dulu, belum tentu aku akan sidang dan lulus lebih dulu daripada mereka.
Setelah seminar, buru-buru aku revisi proposal dan menyiapkan surat pengantar di Rumah Sakit. Tetapi prosesku disini juga tidak mudah. Tanggal 11 desember aku sudah memasukkan surat izin dan proposal ke Rumah sakit. Petugas rumah sakit bilang, aku harus kembali minggu depan untuk melunasi administrasi.
Tanggal 18 desember aku kembali ke Rumah Sakit yang dituju, tapi ternyata aku disarankan untuk mengurus administrasi di Rumah Sakit Unit 2 di Kabupaten. Perjalanan ku lalui ke kabupaten menuju Rumah Sakit Unit 2, dan ternyata sesampainya di sana, proposal dan surat izin-ku masih mereka tinggal di Rumah Sakit Pusat di Kota. Demi apa, aku harus menunggu lagi sampai siang hari. Sabar aku menunggu, mungkin disini letak menyenangkannya. Menunggu.
Akhirnya proposal dan surat izinku siap di Rumah Sakit Unit 2. Aku kembali mengurus administrasi. Tetapi lagi-lagi keberuntungan belum berada di pihak ku. Petugas litbang tiba-tiba bilang akan mengambil cuti akhir tahun. Aku harus menunggu satu minggu lagi untuk menyelesaikan masalah administrasi.
28 Desember aku kembali ke Rumah Sakit Unit 2 di kabupaten. Sekali lagi, mereka belum memproses surat yang ku ajukan. Alasannya tidak sempat, karena kemarin cuti. Aku diminta kembali satu minggu lagi.
Aku kembali 2 Januari 2016. Lagi, lagi dan lagi, surat izin penelitian ku belum keluar dari Rumah Sakit. Emosi ku sedikit memuncak saat itu. Harus berapa lama lagi aku menunggu? Kudesak terus petugas riset dan pengembangan, aku bolak-balik menemui petugas-petugas lain untuk menyelesaikan administrasi penelitianku.
Alhamdulillah, berjam-jam aku menunggu tidaklah sia-sia. Entah karena petugas merasa kasihan kepada ku atau bagaimana, akhirnya aku mendapatkan surat pengantar penelitian.
Dengan semangat aku kembali ke Rumah Sakit Pusat di Kota, siap menemui dokter dan apoteker bersangkutan. Mungkin di sini kesabaranku diuji (lagi). Subjek penelitian ku ternyata kurang. Aku butuh pasien yang masuk kriteria inklusi minimal 50 pasien per bulan, dan waktu penelitian ku minimal 3 bulan. Sedangkan pasien selama bulan desember 2015 lalu, hanya ada 2 orang.
Satu bulan aku setia menunggu keluarnya surat pengantar untuk menemui dokter, tetapi pada akhirnya aku hanya mendapatkan sebuah saran dari dokter untuk mengganti penelitian.
Penyakit dalam penelitianku memang langka. Pun dokter di rumah sakit ini menyarankan agar aku mengganti parameter penelitian ku. Jika aku ingin bertahan meneliti penyakit ini, solusi yang paling memungkinkan adalah aku mengambil data penelitian minimal satu tahun kebelakang yang memang sudah pasti ada pasien nya (meskipun sedikit). Tapi itu tidak mungkin, data kebelakang dengan kriteria inklusi yang sama adalah data penelitian yang akan diambil Eryona, rekan ku sendiri. Karena sejak awal, penelitianku dan Eryona memang mirip. Kami sepakat untuk berbagi, aku mengambil data bulan-bulan ke depan dengan mengikuti pasien dan Eryona mengambil data satu tahun ke belakang dengan penyakit yang sama dan Rumah Sakit yang sama.
Aku bisa saja jahat untuk mengambil data penelitian satu tahun ke belakang yang seharusnya milik Eryona. Toh dia belum mulai administrasi perizinan di Rumah Sakit.
Sumpah demi apapun, aku tidak akan tega mengambil subjek penelitian sahabatku sendiri dan menghancurkan penelitiannya. Aku tidak akan seburuk itu.
Justru Eryona adalah salah satu semangatku bisa terus maju dalam penelitian. Seorang rekan yang setia dan selalu saling membantu.
Otakku sangat kacau saat itu dan belum bisa berfikir jernih. Pelan-pelan aku berjalan menelusuri kota Jogja. Entah, rasanya seperti merasa sendirian di sudut-sudut kota Jogja yang ramai di tahun baru. Tidak terasa butiran lembut jatuh  membasahi pipi. Kelopak mata ini tidak tahan rasanya menampung butiran yang ingin tumpah. Aku menangis sekenanya. Mungkin karena aku masih punya hati, jadi aku menangis. Entahlah.
Perlahan rintik hujan mulai turun. Langit seakan tahu kalau aku sedang bersedih. Air seakan berlomba untuk turun, dari mataku juga dari langit. Rasanya aku ingin mengutuk hujan. Kenapa hujan datang seolah membuat perjalanan ku semakin dramatis.
Astaghfirullah. Tidak seharusnya aku bersedih, tidak seharusnya aku membenci hujan. Bukankah hujan adalah anugerah? Hujan adalah rejeki yang patut disyukuri, dan ketika hujan turun adalah waktu yang tepat untuk bemunajat kepada-Nya. Memohon apapun dari Sang Maha Pemurah.
Hujan datang disaat yang tepat. Di waktu yang seharusnya aku tidak boleh jatuh, tidak boleh mengeluh. Jernihnya air hujan mengingatkan untuk selalu berfikir jernih. Aku percaya, tidak akan ada pelangi jika tidak ada turunnya hujan.
Rencana hebat apa yang sedang Tuhan persiapkan untukku kelak?
Awal 2016. Awal yang baru lagi. Aku belum tahu bagaimana selanjutnya perjalananku.
Jika pada akhirnya aku harus mengubah skripsi atau bahkan aku harus seminar (lagi). Aku siap jika itu yang terbaik.
Aku menulis ini bukan berarti aku mengeluh. Aku yakin, banyak orang yang perjalanan nya lebih berat daripada aku. Aku menulis ini hanya sebagai dokumentasi yang aku deskripsikan. Dokumentasi yang aku simpan dalam bentuk tulisan. Jika nanti aku menyelesaikan studi ini, aku masih memiliki tulisan ini yang akan aku baca dan aku syukuri, memori perjalanan awal ini akan muncul dan menari lagi dipikiran.

Aku hanya tidak ingin melupakan setiap perjalanan dan setiap kenangan. Karena setiap hal yang aku lalui itu berharga, baik maupun buruknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar