Bahaya
Minum Antibiotik
Oleh: Dwi
Ismayati, S.Farm., Apt.
#TanyaObat
#TanyaApoteker
Assalamualaikum
health people. Perkenalkan saya Apoteker Dwi. Pada kesempatan kali ini saya
akan membahas topik: Bahaya Minum Antibiotik ‘Sembarangan’.
Kenapa Antibiotik
tidak boleh diminum sembarangan?
Nah, saya pernah ‘jaga’
sebuah apotek swasta di Lampung selama beberapa hari. Ketika itu saya beberapa
kali mendapatkan pasien yang datang ke Apotek untuk membeli antibiotik. Mereka
biasanya sudah membawa contoh antibiotik dan ingin membeli lagi antibotik yang
sama. Antibiotik yang paling sering dibeli oleh pasien adalah Golongan
penisilin seperti amoksisilin. Jadi ada pasien yang radang tenggorokan, pilek, atau
batuk. Selain itu juga ada pasien yang membeli antibiotik dengan golongan yang
lebih ‘tinggi’ seperti Supertetra (tetrasiklin). Sedihnya lagi, pasien tersebut
tidak mengetahui bahwa obat yang dibeli tersebut adalah antibiotik.
Jujur hati nurani
saya tidak ingin menjual antibiotik secara secara sembarang dan tanpa resep
dokter. Tetapi jika saya bersikap idealis dengan tidak menjual antibiotik,
Apotek tersebut mungkin akan mengalami kerugian dan pasien tersebut akan kapok
membeli obat di Apotek sama.
Mungkin saja
pasien tersebut akan bercerita kepada orang lain dan memengaruhi orang lain
untuk tidak membeli obat di Apotek tersebut sehingga berefek pelanggan lainnya.
Ketika Apotek A tidak mau menjual Antibiotik, mungkin saja Apotek B, Apotek C
dan Apotek lainnya di kota yang sama masih menjual antibiotik secara bebas.
(Ini merupakan salah satu PR besar seorang Farmasis antara memikirkan omset penjualan dari segi bisnis dan dari
segi hati nurani untuk mengaplikasikan ilmu dalam dunia kesehatan).
Ketika itu saya
bukan lah karyawan di Apotek tersebut dan saya hanya orang asing yang kebetulan
ikut sepupu saya yang bekerja disana. Sehingga saya pun tidak memiliki hak
untuk melarang pasien membeli obat. Pada akhirnya saya memberikan antibiotik kepada
pasien, tetapi sekaligus memberikan edukasi kepada pasien terkait antibiotik
yang dibelinya.
Ketika saya
memberikan edukasi mengenai antibiotik supertetra, bagaimana cara minum obat
yang tepat dan antibiotik tersebut harus dihabiskan, pasien tersebut justru menjawab:
“Loh, antibiotik?
Mana antibiotik nya? Memangnya obat ini mengandung antibiotik?”
Wah, dari
pertanyaan pasien ini saja sudah jelas bahwa kurangnya edukasi kepada
masyarakat mengenai antibiotik. Bahkan pasien tersebut membeli obat untuk
dirinya tetapi tidak mengetahui obat apa yang sebenarnya dibeli nya dan tidak
tahu bagaimana bahaya nya obat tersebut jika dikonsumsi secara sembarangan.
Penjualan
antibiotik di Indonesia memang masih belum tertib dan mudah sekali membeli
antibiotik tanpa resep dokter. Tidak hanya di Lampung, di kota-kota besar
seperti Jakarta sekalipun penjualan antibiotik masih sangat mudah. Karena jika
misalnya Apotek A tidak menjual antibiotik, tetapi Apotek B, Apotetk C dan
Apotek lainnya di kota yang sama masih menjual antibiotik. Secara bisnis,
kemungkinan ini akan merugikan Apotek A. Untuk wilayah Indonesia, hanya di Kota
Yogyakarta yang sudah tertib untuk tidak menjual Antibiotik tanpa resep dokter (sudah ada dipenjelasan pada tulisan di
blog saya sebelumnya, seluruh Apotek di Jogja sepakat untuk tidak menjual
antibiotik tanpa resesp dokter). *CMIIW. Mohon info nya jika sudah ada kota
lain di Indonesia yang juga sudah menertibkan penjualan antibiotik harus
menggunakan resep dokter.
Nah, jadi kenapa
Antibiotik itu tidak boleh diminum sembarangan?
1. Alergi
Yang pertama
ditakukan adalah, kita tidak tahu adanya reaksi alregi atau tidak. Biasanya
ketika berobat ke dokter, dokter akan menanyakan ada alergi obat atau tidak,
ada alergi makanan atau tidak. Jika memilik alergi, maka alergi makanan apa
atau alergi obat apa. Terutama untuk antibiotik golongan penisilin, sangat
banyak pasien yang hipersensitif (alergi) terhadap antibiotik golongan
tersebut.
Ketika mengonsumsi
antibiotik tanpa pengawasan Dokter/Apoteker ataupun tanpa konsultasi
sebelumnya, dan ternyata memiliki alergi, mungkin bibir akan bengkak, atau
muncul reaksi alergi gatal-gatal. Dan pasien tidak tahu bahwa itu adalah efek
dari alergi obat, kemudian pasien mengonsumsi antibiotik tersebut dan diteruskan,
akhirnya alergi tersebut akan bertambah parah.
2. Flora
Normal di dalam usus bisa menjadi ‘tidak normal’
Flora normal
artinya terdapat berbagai macam mikroorganisme seperti bakteri dan fungi yang
merupakan ‘penghuni tetap’ dari bagian tubuh tertentu khususnya pada kulit,
usus besar dan vagina. Di dalam usus besar kita, adanya flora normal yang
artinya terdapat bakteri baik. Jadi ketika kita mengonsumsi antibiotik, maka
bakteri baik juga akan ikut mati. Bakteri baik dapat membantu usus besar untuk
bekerja dengan baik, fungsi nya dengan baik karena adanya flora normal. Jika
bakteri baik itu mati, maka bisa terjadi pertumbuhan jamur disana, akan ada
bakteri jahat nantinya. Bahkan tubuh akan menjadi drop. Itulah kenapa perlu nya
pengawasan dokter dan Apoteker dalam mengonsumsi antibiotik.
Pada beberapa
kasus pasien yang diberikan treatment
antibiotik, dokter/apoteker juga memberikan tambahan probiotik untuk
mengembalikan flora normal di dalam usus.
Probiotik
sebenarnya adalah mikroorganisme hidup atau bakteri baik yang secara natural
ada di dalam usus. Kultur baik ini membantu menyeimbangkan flora di usus.
Seperti namanya, ‘anti-biotik’ -ketika mengonsumsi antibiotik, tidak hanya
bakteri jahat saja yang mati, tetapi juga bakteri baik juga akan ikut mati.
Itulah kenapa ketika mengonsumsi antibiotik bisa diiringi dengan mengonsumsi probiotik.
3. Resistensi
Ketika mengonsumsi
antibiotik secara sembarangan, dikhawatirkan bakteri akan menjadi resisten.
Resistensi antibiotik adalah keadaan dimana kuman atau bakteri tidak dapat lagi
dibunuh dengan menggunakan antibiotik. Pada saat antibiotik diberikan, sejumlah
bakteri akan mati. Tapi kemudian terjadi mutasi gen bakteri sehingga ia dapat
bertahan dari serangan antibiotik tersebut. Bakteri yang tidak bisa bertahan
dari serangan antibiotik akan mati, tetapi bakteri yang mengalami mutasi akan bertahan
dan hidup. Bakteri ini lalu membelah dengan cepat dan terbentuklah jutaan
koloni bakteri yang mampu melawan antibiotik tersebut. Apabila bakteri tersebut
menginfeksi individu lain, maka antibiotik tersebut tidak akan mampu mengatasi
infeksi tersebut. Semakin sering antibiotik digunakan, semakin cepat resistensi
timbul.
Ketika sudah
resistensi terhadap satu antibiotik, tubuh akan kebal. Minum antibiotik yang
sama lagi tidak akan mempan. Semakin lama, kita harus meminum antibiotik yang
lebih keras lagi efek nya. Jadi, sebaiknya jangan mengonsumsi antibiotik sembarangan.
Sekali lagi, tidak
semua sakit membutuhkan antibiotik. Misalnya pilek atau flu. Sebagian besar
flu/pilek itu disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Sehingga treatment nya bukan menggunakan
antibiotik. Kita memiliki sistem daya tahan tubuh atau sistem imun yang bisa
melawan virus/bakteri. Ketika sakit, cukup beristirahat, jangan terlalu stress,
makan makanan yang bergizi dan vitamin. Maka tubuh akan lebih cepat pulih ketika
sistem imun kita semakin membaik.
Seperti yang sudah
saya katakan, antibiotik di Indonesia masih dijual bebas, bahkan sangat bebas.
Kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena hal ini. Kita tidak bisa
menyalahkan pasien yang meminum antibiotik dengan sembarangan. Begitu pula kita
tidak bisa serta merta menyalahkan petugas Apotek yang masih menjual antibiotik
tanpa resep dokter.
Dengan adanya
tulisan ini, semoga dapat bermanfaat dan kita bisa bersama sama untuk saling
mengingatkan bagaimana bahaya nya minum antibiotik secara sembarang, agar
penggunaan obat dapat lebih diperhatikan.
Jadi, kapan
antibiotik itu diperlukan? Konsultasikan kepada Dokter dan Tanya Apoteker.
Semoga informasi
ini bermanfaat.
Salam sehat
sejahtera.
Tanya Obat, Tanya
Apoteker.
Wassalamualaikum
wr. wb

Manusia memiliki kodrat ketidakpuasan, tetapi dalam kenyataannya sebagaian manusia merasa puas akan pengetahuannya.
BalasHapusPR besar untuk kita WI, dalam situasi Dan tugas kita masing-masing dalam membenahinya.
Semangat bertugas kawan, 😊😊😊
Iya chida. Semoga bisa bermanfaat untuk orang lain:)
Hapus