Rabu, 21 November 2018

Bahaya Minum Antibiotik


Bahaya Minum Antibiotik

Oleh: Dwi Ismayati, S.Farm., Apt.
#TanyaObat #TanyaApoteker

Assalamualaikum health people. Perkenalkan saya Apoteker Dwi. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas topik: Bahaya Minum Antibiotik ‘Sembarangan’.

Kenapa Antibiotik tidak boleh diminum sembarangan?

Nah, saya pernah ‘jaga’ sebuah apotek swasta di Lampung selama beberapa hari. Ketika itu saya beberapa kali mendapatkan pasien yang datang ke Apotek untuk membeli antibiotik. Mereka biasanya sudah membawa contoh antibiotik dan ingin membeli lagi antibotik yang sama. Antibiotik yang paling sering dibeli oleh pasien adalah Golongan penisilin seperti amoksisilin. Jadi ada pasien yang radang tenggorokan, pilek, atau batuk. Selain itu juga ada pasien yang membeli antibiotik dengan golongan yang lebih ‘tinggi’ seperti Supertetra (tetrasiklin). Sedihnya lagi, pasien tersebut tidak mengetahui bahwa obat yang dibeli tersebut adalah antibiotik.

Jujur hati nurani saya tidak ingin menjual antibiotik secara secara sembarang dan tanpa resep dokter. Tetapi jika saya bersikap idealis dengan tidak menjual antibiotik, Apotek tersebut mungkin akan mengalami kerugian dan pasien tersebut akan kapok membeli obat di Apotek sama.

Mungkin saja pasien tersebut akan bercerita kepada orang lain dan memengaruhi orang lain untuk tidak membeli obat di Apotek tersebut sehingga berefek pelanggan lainnya. Ketika Apotek A tidak mau menjual Antibiotik, mungkin saja Apotek B, Apotek C dan Apotek lainnya di kota yang sama masih menjual antibiotik secara bebas. (Ini merupakan salah satu PR besar seorang Farmasis antara memikirkan  omset penjualan dari segi bisnis dan dari segi hati nurani untuk mengaplikasikan ilmu dalam dunia kesehatan).

Ketika itu saya bukan lah karyawan di Apotek tersebut dan saya hanya orang asing yang kebetulan ikut sepupu saya yang bekerja disana. Sehingga saya pun tidak memiliki hak untuk melarang pasien membeli obat. Pada akhirnya saya memberikan antibiotik kepada pasien, tetapi sekaligus memberikan edukasi kepada pasien terkait antibiotik yang dibelinya.

Ketika saya memberikan edukasi mengenai antibiotik supertetra, bagaimana cara minum obat yang tepat dan antibiotik tersebut harus dihabiskan, pasien tersebut justru menjawab:
“Loh, antibiotik? Mana antibiotik nya? Memangnya obat ini mengandung antibiotik?”

Wah, dari pertanyaan pasien ini saja sudah jelas bahwa kurangnya edukasi kepada masyarakat mengenai antibiotik. Bahkan pasien tersebut membeli obat untuk dirinya tetapi tidak mengetahui obat apa yang sebenarnya dibeli nya dan tidak tahu bagaimana bahaya nya obat tersebut jika dikonsumsi secara sembarangan.

Penjualan antibiotik di Indonesia memang masih belum tertib dan mudah sekali membeli antibiotik tanpa resep dokter. Tidak hanya di Lampung, di kota-kota besar seperti Jakarta sekalipun penjualan antibiotik masih sangat mudah. Karena jika misalnya Apotek A tidak menjual antibiotik, tetapi Apotek B, Apotetk C dan Apotek lainnya di kota yang sama masih menjual antibiotik. Secara bisnis, kemungkinan ini akan merugikan Apotek A. Untuk wilayah Indonesia, hanya di Kota Yogyakarta yang sudah tertib untuk tidak menjual Antibiotik tanpa resep dokter (sudah ada dipenjelasan pada tulisan di blog saya sebelumnya, seluruh Apotek di Jogja sepakat untuk tidak menjual antibiotik tanpa resesp dokter). *CMIIW. Mohon info nya jika sudah ada kota lain di Indonesia yang juga sudah menertibkan penjualan antibiotik harus menggunakan resep dokter.

Nah, jadi kenapa Antibiotik itu tidak boleh diminum sembarangan?

1.      Alergi
Yang pertama ditakukan adalah, kita tidak tahu adanya reaksi alregi atau tidak. Biasanya ketika berobat ke dokter, dokter akan menanyakan ada alergi obat atau tidak, ada alergi makanan atau tidak. Jika memilik alergi, maka alergi makanan apa atau alergi obat apa. Terutama untuk antibiotik golongan penisilin, sangat banyak pasien yang hipersensitif (alergi) terhadap antibiotik golongan tersebut.

Ketika mengonsumsi antibiotik tanpa pengawasan Dokter/Apoteker ataupun tanpa konsultasi sebelumnya, dan ternyata memiliki alergi, mungkin bibir akan bengkak, atau muncul reaksi alergi gatal-gatal. Dan pasien tidak tahu bahwa itu adalah efek dari alergi obat, kemudian pasien mengonsumsi antibiotik tersebut dan diteruskan, akhirnya alergi tersebut akan bertambah parah.

2.      Flora Normal di dalam usus bisa menjadi ‘tidak normal’
Flora normal artinya terdapat berbagai macam mikroorganisme seperti bakteri dan fungi yang merupakan ‘penghuni tetap’ dari bagian tubuh tertentu khususnya pada kulit, usus besar dan vagina. Di dalam usus besar kita, adanya flora normal yang artinya terdapat bakteri baik. Jadi ketika kita mengonsumsi antibiotik, maka bakteri baik juga akan ikut mati. Bakteri baik dapat membantu usus besar untuk bekerja dengan baik, fungsi nya dengan baik karena adanya flora normal. Jika bakteri baik itu mati, maka bisa terjadi pertumbuhan jamur disana, akan ada bakteri jahat nantinya. Bahkan tubuh akan menjadi drop. Itulah kenapa perlu nya pengawasan dokter dan Apoteker dalam mengonsumsi antibiotik.

Pada beberapa kasus pasien yang diberikan treatment antibiotik, dokter/apoteker juga memberikan tambahan probiotik untuk mengembalikan flora normal di dalam usus.

Probiotik sebenarnya adalah mikroorganisme hidup atau bakteri baik yang secara natural ada di dalam usus. Kultur baik ini membantu menyeimbangkan flora di usus. Seperti namanya, ‘anti-biotik’ -ketika mengonsumsi antibiotik, tidak hanya bakteri jahat saja yang mati, tetapi juga bakteri baik juga akan ikut mati. Itulah kenapa ketika mengonsumsi antibiotik bisa diiringi dengan mengonsumsi probiotik.

3.      Resistensi
Ketika mengonsumsi antibiotik secara sembarangan, dikhawatirkan bakteri akan menjadi resisten. Resistensi antibiotik adalah keadaan dimana kuman atau bakteri tidak dapat lagi dibunuh dengan menggunakan antibiotik. Pada saat antibiotik diberikan, sejumlah bakteri akan mati. Tapi kemudian terjadi mutasi gen bakteri sehingga ia dapat bertahan dari serangan antibiotik tersebut. Bakteri yang tidak bisa bertahan dari serangan antibiotik akan mati, tetapi bakteri yang mengalami mutasi akan bertahan dan hidup. Bakteri ini lalu membelah dengan cepat dan terbentuklah jutaan koloni bakteri yang mampu melawan antibiotik tersebut. Apabila bakteri tersebut menginfeksi individu lain, maka antibiotik tersebut tidak akan mampu mengatasi infeksi tersebut. Semakin sering antibiotik digunakan, semakin cepat resistensi timbul.

Ketika sudah resistensi terhadap satu antibiotik, tubuh akan kebal. Minum antibiotik yang sama lagi tidak akan mempan. Semakin lama, kita harus meminum antibiotik yang lebih keras lagi efek nya. Jadi, sebaiknya jangan  mengonsumsi antibiotik sembarangan.

Sekali lagi, tidak semua sakit membutuhkan antibiotik. Misalnya pilek atau flu. Sebagian besar flu/pilek itu disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Sehingga treatment nya bukan menggunakan antibiotik. Kita memiliki sistem daya tahan tubuh atau sistem imun yang bisa melawan virus/bakteri. Ketika sakit, cukup beristirahat, jangan terlalu stress, makan makanan yang bergizi dan vitamin. Maka tubuh akan lebih cepat pulih ketika sistem imun kita semakin membaik.

Seperti yang sudah saya katakan, antibiotik di Indonesia masih dijual bebas, bahkan sangat bebas. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena hal ini. Kita tidak bisa menyalahkan pasien yang meminum antibiotik dengan sembarangan. Begitu pula kita tidak bisa serta merta menyalahkan petugas Apotek yang masih menjual antibiotik tanpa resep dokter.

Dengan adanya tulisan ini, semoga dapat bermanfaat dan kita bisa bersama sama untuk saling mengingatkan bagaimana bahaya nya minum antibiotik secara sembarang, agar penggunaan obat dapat lebih diperhatikan.

Jadi, kapan antibiotik itu diperlukan? Konsultasikan kepada Dokter dan Tanya Apoteker.

Semoga informasi ini bermanfaat.
Salam sehat sejahtera.
Tanya Obat, Tanya Apoteker.
Wassalamualaikum wr. wb


2 komentar:

  1. Manusia memiliki kodrat ketidakpuasan, tetapi dalam kenyataannya sebagaian manusia merasa puas akan pengetahuannya.

    PR besar untuk kita WI, dalam situasi Dan tugas kita masing-masing dalam membenahinya.

    Semangat bertugas kawan, 😊😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya chida. Semoga bisa bermanfaat untuk orang lain:)

      Hapus