Dokter dan Apoteker? Apa bedanya? Dokter adalah asistennya Apoteker? Atau Apoteker yang merupakan asistennya Dokter? Bukan dua-dua nya. Dokter dan Apoteker jelas berbeda. Dokter ahli mendiagnosa penyakit, dan Apoteker ahli tentang obat. Apoteker punya asisten sendiri, namanya Asisten Apoteker (AA) atau Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK). Nah, AA atau TTK ini merupakan lulusan-lulusan jurusan farmasi yang meliputi lulusan SMK farmasi, atau D3 farmasi maupun S1 farmasi.
Kembali ke perbedaan Dokter dan Apoteker. Calon dokter setelah lulusan S1 kedokteran maka akan mendapatkan gelar S. Ked (Sarjana Kedokteran) dan wajib melanjutkan pendidikan profesi dokter selama 2 tahun yang biasa kita sebut dengan coass (co-assistant) atau dokter muda. Bagaimana jika sarjana kedokteran tidak melanjutkan profesi dokter dan hanya berhenti sampai sarjana kedokteran? Tentu sarjana kedokteran ini tidak bisa disebut dengan dokter dan tidak diizinkan untuk membuka praktek karena akan dianggap mal praktek. Lalu, bagaimana dengan Apoteker?
Calon Apoteker, setelah lulus S1 farmasi mendapat gelar S. Farm (Sarjana Farmasi) harus melanjutkan pendidikan profesi apoteker selama 1 tahun untuk menjadi Apoteker dan disebut Apoteker muda. Bedanya dengan coass yang selama 2 tahun full praktek langsung di pelayanan kesehatan (rumah sakit), apoteker muda (di Indonesia) hanya menempuh pendidikan selama 1 tahun yang dibagi menjadi 2 semester. Selama 1 semester dihabiskan untuk kuliah teori dan 1 semester untuk praktek yang disebut PKPA (praktek Kerja Profesi Apoteker).
Bedanya lagi dengan dokter, Sarjana farmasi (S. Farm) yang tidak melanjutkan pendidikan apoteker tetap bisa bekerja sebagai Asisten Apoteker (AA) atau Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK).
Saya ingin sedikit share historis mengenai 2 profesi. Kita sebenarnya dahulu kala adalah 1 profesi, cobalah kita lihat secara sederhana di mesir dikenal seorang ahli medis yang bernama Imhotep, orang yang sangat berkuasa ini sangat ahli dalam mendiagnosa dan juga menyiapkan ramuan untuk yang sakit, hingga kemudian kita menemukan papyrus eber ratusan tahun kemudian yang menulis banyak resep/obat kuno. Lebih sederhana lagi, kita biasa menonton film korea dan kita tahu tentang Dae Jang Geum, di situ kita lihat dia sebagai tabib yang melakukan diagnose dan juga menyediakan obat. Catatan-catatan kuno lain di babilonia dan yunani menunjukkan bahwa dahulu hanya ada 1 profesi sebagai dokter, apoteker, dan bahkan sekaligus sebagai perawat nya juga. Lalu kemudian apa yang terjadi? Di Yunani secara khususnya, kita mengenal Hippocrates yang saat ini diakui sebagai Bapak Kedokteran mengembangkan konsep dasar mengenai ketidakseimbangan tubuh. Konsep tersebut kemudian dikembangkan oleh seorang Yunani yang bernama Galen yang memanfaatkan bahan-bahan alami untuk kembali menyeimbangkan tubuh. Galen ini kemudian membuat klasifikasi sederhana mengenai obat. Ratusan tahun kemudian, Dioscorides mencatat bagaimana efek bahan-bahan alami terhadap tubuh saat dia pergi bersama tentara romawi. Sampai saat itu profesi kesehatan masihlah 1 orang yang mengurus semua, tetapi bisa dilihat mulai ada kecenderungan pengembangan obat-obatan. Lalu dari mana muncul ide pemisahan antara dokter dan apoteker? Di Yunani, terdapat dewa yang dinggap dokter yaitu Asklepios yang dalam gambarannya selalu dibantu anaknya Hygeia yang membawa cawan dan ular. Simbol cawan dan ular inilah yang menjadi simbol apotek yang kita kenal di masa modern. Ide ini berkembang lebih jauh saat tulisan-tulisan yunani ini diterjemahkan ke dalam bahasa arab, seiring dengan peningkatan jumlah penyakit dan semakin banyak pula jumlah tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai obat. Ide mengenai pemisahan profesi ini kemudian disebarkan kembali ke eropa, hingga akhirnya Kaisar Jerman Frederick II di tahun 1200an secara resmi memisahkan antara dokter dan apoteker. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka pembuatan obat pun lebih distandarisasi hingga akhirnya mulai dibentuk industri farmasi. Apoteker tetap bertanggung jawab baik dalam pembuatan obat di industri maupun dalam peracikan dan penyiapan obat di apotek. Jumlah penyakit pun terus meningkat dan begitupula dengan jumlah obat, tantangan baru pun muncul pada tahun 1900an mengenai kontrol penggunaan obat baik di Amerika maupun di Eropa. Oleh karena itu di tahun 1989 mulai diharapkan apoteker-apoteker tidak hanya sekedar menyiapkan obat saja tetapi bisa membantu lebih jauh profesi asalnya dengan melakukan review pemberian obat. Berbagai penelitian dibuat di mana peran apoteker dalam mereview obat dapat mengurangi kejadian yang tidak diinginkan sehingga dapat menyelamatkan pasien.
Dwi Ismayati
18 oktober 2016
Kembali ke perbedaan Dokter dan Apoteker. Calon dokter setelah lulusan S1 kedokteran maka akan mendapatkan gelar S. Ked (Sarjana Kedokteran) dan wajib melanjutkan pendidikan profesi dokter selama 2 tahun yang biasa kita sebut dengan coass (co-assistant) atau dokter muda. Bagaimana jika sarjana kedokteran tidak melanjutkan profesi dokter dan hanya berhenti sampai sarjana kedokteran? Tentu sarjana kedokteran ini tidak bisa disebut dengan dokter dan tidak diizinkan untuk membuka praktek karena akan dianggap mal praktek. Lalu, bagaimana dengan Apoteker?
Calon Apoteker, setelah lulus S1 farmasi mendapat gelar S. Farm (Sarjana Farmasi) harus melanjutkan pendidikan profesi apoteker selama 1 tahun untuk menjadi Apoteker dan disebut Apoteker muda. Bedanya dengan coass yang selama 2 tahun full praktek langsung di pelayanan kesehatan (rumah sakit), apoteker muda (di Indonesia) hanya menempuh pendidikan selama 1 tahun yang dibagi menjadi 2 semester. Selama 1 semester dihabiskan untuk kuliah teori dan 1 semester untuk praktek yang disebut PKPA (praktek Kerja Profesi Apoteker).
Bedanya lagi dengan dokter, Sarjana farmasi (S. Farm) yang tidak melanjutkan pendidikan apoteker tetap bisa bekerja sebagai Asisten Apoteker (AA) atau Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK).
Saya ingin sedikit share historis mengenai 2 profesi. Kita sebenarnya dahulu kala adalah 1 profesi, cobalah kita lihat secara sederhana di mesir dikenal seorang ahli medis yang bernama Imhotep, orang yang sangat berkuasa ini sangat ahli dalam mendiagnosa dan juga menyiapkan ramuan untuk yang sakit, hingga kemudian kita menemukan papyrus eber ratusan tahun kemudian yang menulis banyak resep/obat kuno. Lebih sederhana lagi, kita biasa menonton film korea dan kita tahu tentang Dae Jang Geum, di situ kita lihat dia sebagai tabib yang melakukan diagnose dan juga menyediakan obat. Catatan-catatan kuno lain di babilonia dan yunani menunjukkan bahwa dahulu hanya ada 1 profesi sebagai dokter, apoteker, dan bahkan sekaligus sebagai perawat nya juga. Lalu kemudian apa yang terjadi? Di Yunani secara khususnya, kita mengenal Hippocrates yang saat ini diakui sebagai Bapak Kedokteran mengembangkan konsep dasar mengenai ketidakseimbangan tubuh. Konsep tersebut kemudian dikembangkan oleh seorang Yunani yang bernama Galen yang memanfaatkan bahan-bahan alami untuk kembali menyeimbangkan tubuh. Galen ini kemudian membuat klasifikasi sederhana mengenai obat. Ratusan tahun kemudian, Dioscorides mencatat bagaimana efek bahan-bahan alami terhadap tubuh saat dia pergi bersama tentara romawi. Sampai saat itu profesi kesehatan masihlah 1 orang yang mengurus semua, tetapi bisa dilihat mulai ada kecenderungan pengembangan obat-obatan. Lalu dari mana muncul ide pemisahan antara dokter dan apoteker? Di Yunani, terdapat dewa yang dinggap dokter yaitu Asklepios yang dalam gambarannya selalu dibantu anaknya Hygeia yang membawa cawan dan ular. Simbol cawan dan ular inilah yang menjadi simbol apotek yang kita kenal di masa modern. Ide ini berkembang lebih jauh saat tulisan-tulisan yunani ini diterjemahkan ke dalam bahasa arab, seiring dengan peningkatan jumlah penyakit dan semakin banyak pula jumlah tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai obat. Ide mengenai pemisahan profesi ini kemudian disebarkan kembali ke eropa, hingga akhirnya Kaisar Jerman Frederick II di tahun 1200an secara resmi memisahkan antara dokter dan apoteker. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka pembuatan obat pun lebih distandarisasi hingga akhirnya mulai dibentuk industri farmasi. Apoteker tetap bertanggung jawab baik dalam pembuatan obat di industri maupun dalam peracikan dan penyiapan obat di apotek. Jumlah penyakit pun terus meningkat dan begitupula dengan jumlah obat, tantangan baru pun muncul pada tahun 1900an mengenai kontrol penggunaan obat baik di Amerika maupun di Eropa. Oleh karena itu di tahun 1989 mulai diharapkan apoteker-apoteker tidak hanya sekedar menyiapkan obat saja tetapi bisa membantu lebih jauh profesi asalnya dengan melakukan review pemberian obat. Berbagai penelitian dibuat di mana peran apoteker dalam mereview obat dapat mengurangi kejadian yang tidak diinginkan sehingga dapat menyelamatkan pasien.
Dwi Ismayati
18 oktober 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar