[A, beliin ini ya a]
“Neng, mau dijemput di mana neng?”
“Di gerbang depan ITB ya, a”
Bukan, bukan pacar saya yang telepon. Suami juga bukan. Teman juga bahkan bukan. Orang yang saya sebut aa itu abang kalau di Jakarta, mas kalau di Yogya. Kok yang jemput ganti-ganti? Iya, karena saya kalau di Bandung atau di kota lainnya selalu minta si aa, abang, dan mas ini buat pergi-pergi antar kesana-kemari. Maklum, karena kendaraan yang bisa saya bawa cuma sepeda, jadi saya selalu mengandalkan aa, abang, dan mas untuk pergi ke manapun. Buat saya, teknologi aa, abang, mas ini membuat mobilisasi saya mudahnya bukan main.
Beberapa bulan kemudian aa, abang, dan mas ini ternyata bisa multitasking! Bukan hanya antar jemput saya, tapi mereka bisa membelikan makanan, tiket bioskop, bahkan bisa bantu pindah kosan! Aa, abang, dan mas ini memang memudahkan urusan mahasiswa banget! Saya hanya butuh akses internet dan semua itu bisa saya dapatkan dengan cepat. Efektif dan efisien apalagi bagi saya yang tidak bisa bawa kendaraan dan benci kemacetan. Terima kasih a, bang, mas.
Tapi… akhir-akhir ini saya kecewa sama mereka. Yah bukan sama mereka sih tepatnya, tapi sama bos mereka. Tebak kenapa? Sekarang si aa bisa antar obat juga! Loh kenapa kecewa? Bagus dong orang sakit jadi bisa teratasi dengan cepat. Oh ya?
_____________________________________________________________________________________________
Apoteker mempunya kewajiban memberikan pelayanan terkait obat. Siapa makhluk itu? Yang ada di apotek ya? Yang kasi obat terus ngasi kembalian? Kalau yang teman-teman liat itu mungkin asisten apoteker atau mungkin kasir. Kewajiban apoteker di apotek adalah memberikan informasi atau konseling obat kepada masyarakat. Bukan hanya sekedar pasang nama yang dulu jadi adat. Lantas dengan semena-mena minta orang lain ngurusi obat. Alhasil, apoteker dan kasir tidak bisa dibedakan. Dulu? Iya sekarang juga masih, tapi perlahan teman-teman akan melihat papan nama di apotek bukan sekedar papan 😊
Memang, masih banyak apoteker yang kerja di belakang layar dan jarang bertemu dengan masyarakat. Inikah hal yang menyebabkan masalah terkait obat menumpuk di negeri kita? Ketika ahli obat justru tidak memberikan edukasi obat kepada masyarakat. Inikah alasan mengapa obat palsu marak? Inikah alasan kenapa derajat kesehatan Indonesia meningkat cukup lambat? Dikala apoteker mulai tersadar ada suatu kesalahan yang harus diperbaiki, kok ya ternyata semesta seperti tidak mendukung?
Saya apresiasi munculnya amandemen permenkes terkait pelibatan BPOM dalam pengawasan obat di apotek, saya bahagia sekali melihat begitu gigihnya organisasi profesi apoteker mendorong apoteker untuk selalu ada di apotek, saya lega melihat pasar pramuka sudah digrebek. Berbagai usaha ini jelas dilakukan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat. Apoteker ingin bertemu dengan teman-teman semua, melihat wajah kalian secara langsung. Berkomunikasi dua arah dan menyampaikan konseling pengobatan, kapan teman-teman harus minum obat, bagaimana cara menggunakan inhaler, suppositoria, dll, memberi motivasi kepada teman-teman untuk patuh minum obat, memberi jawaban bagi kegalauan teman-teman akan takutnya minum obat atau ragu kapan harus berhenti pakai obat, menjadi kawannya masyarakat. Para apoteker tidak mau lagi melihat masalah obat palsu yang tak kunjung selesai, pembelian antibiotic secara bebas, penyalahgunaan obat. We are attempting something right now. Please say that you also want to make Indonesians’ health better.
Ah, tapi bos si aa ini seperti sedang menghambat usaha para apoteker. Dengan sekali klik, kita bisa melihat berbagai obat bebas dan obat keras terdisplay di layar hp. Masyarakat bisa mengunduh resep dan hanya tinggal menunggu si aa, mas, abang mengantar dengan senyumnya seraya berkata “neng, bintang 5 ya”
Ini kontroversi jadul yang terjadi di dunia. Berbagai Negara telah mempermasalahkan hal ini sejak awal tahun 2000, ada yang melarang namun ada yang tetap mengizinkan pembentukan apotek online dengan syarat-syarat tertentu. Saya tahu sudah ada beberapa teman saya yang mendorong organisasi profesi dan pemerintah untuk menyikapi hal ini dan mencegah terjadinya kemarakan apotek online. Bukannya kami tidak mengikuti perkembangan zaman, menolak inovasi teknologi, atau menolak efisiensi. Ini berbeda dengan tuntutan para ojek konvensional yang harus memaksakan diri beralih mengikuti zaman. Kami berbicara kesehatan. The nature of health is not for sale.
Apotek online dan si bos sebagai mediator berpeluang menjadi fasilitas terjadinya peningkatan penyalahgunaan obat, kerawanan palsunya obat, ketidakpatuhan pasien dan kesalahan penggunaan obat. Cepat bukan jadi poin utama pelayanan kesehatan, safety is. Bagaimana apoteker akan menjamin keamanan pasien jika si empunya sakit tidak bercakap langsung dengan apoteker, bagaimana apoteker memverifikasi kebenaran resep jika resep dapat diunduh seenaknya lewat aplikasi.
Saya masih menunggu janji organisasi profesi yang ingin menyikapi hal ini. Jikapun kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, buatlah sebuah aturan untuk membatasi ruang apotek online agar apoteker dan masyarakat masih dapat menjadi kawan.
Untuk teman-teman sekalian, saya sebagai calon apoteker mungkin belum bisa berbuat banyak. Saya hanya ingin teman-teman lebih aware dengan kondisi yang ada. Walau kita belum melihat apoteker di setiap apotek, namun percayalah apoteker sedang disiapkan menjadi ahli obat bukan hanya yang mengurusi produksi di industri farmasi tapi juga memberikan pelayanan informasi dan konseling obat sebagai tenaga kesehatan. Sekarang saya kembalikan ke teman-teman bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi sebijak mungkin sambil menunggu janji penyikapan ini. Manfaatkan apoteker di sekeliling kalian, dukung perbaikan kesehatan secara menyeluruh.
Saya berharap, ketika teman-teman sedang sakit dan membutuhkan obat, senyum yang teman-teman tunggu bukanlah dari si aa, abang, dan mas; melainkan senyum para apoteker yang memberikan informasi dan konseling obat untuk kalian, senyum manis dan tulusnya apoteker dengan doanya yang mengiringi “terima kasih, kami doakan semoga cepat sembuh”.
Semoga semesta mendukung.
“Neng, mau dijemput di mana neng?”
“Di gerbang depan ITB ya, a”
Bukan, bukan pacar saya yang telepon. Suami juga bukan. Teman juga bahkan bukan. Orang yang saya sebut aa itu abang kalau di Jakarta, mas kalau di Yogya. Kok yang jemput ganti-ganti? Iya, karena saya kalau di Bandung atau di kota lainnya selalu minta si aa, abang, dan mas ini buat pergi-pergi antar kesana-kemari. Maklum, karena kendaraan yang bisa saya bawa cuma sepeda, jadi saya selalu mengandalkan aa, abang, dan mas untuk pergi ke manapun. Buat saya, teknologi aa, abang, mas ini membuat mobilisasi saya mudahnya bukan main.
Beberapa bulan kemudian aa, abang, dan mas ini ternyata bisa multitasking! Bukan hanya antar jemput saya, tapi mereka bisa membelikan makanan, tiket bioskop, bahkan bisa bantu pindah kosan! Aa, abang, dan mas ini memang memudahkan urusan mahasiswa banget! Saya hanya butuh akses internet dan semua itu bisa saya dapatkan dengan cepat. Efektif dan efisien apalagi bagi saya yang tidak bisa bawa kendaraan dan benci kemacetan. Terima kasih a, bang, mas.
Tapi… akhir-akhir ini saya kecewa sama mereka. Yah bukan sama mereka sih tepatnya, tapi sama bos mereka. Tebak kenapa? Sekarang si aa bisa antar obat juga! Loh kenapa kecewa? Bagus dong orang sakit jadi bisa teratasi dengan cepat. Oh ya?
_____________________________________________________________________________________________
Apoteker mempunya kewajiban memberikan pelayanan terkait obat. Siapa makhluk itu? Yang ada di apotek ya? Yang kasi obat terus ngasi kembalian? Kalau yang teman-teman liat itu mungkin asisten apoteker atau mungkin kasir. Kewajiban apoteker di apotek adalah memberikan informasi atau konseling obat kepada masyarakat. Bukan hanya sekedar pasang nama yang dulu jadi adat. Lantas dengan semena-mena minta orang lain ngurusi obat. Alhasil, apoteker dan kasir tidak bisa dibedakan. Dulu? Iya sekarang juga masih, tapi perlahan teman-teman akan melihat papan nama di apotek bukan sekedar papan 😊
Memang, masih banyak apoteker yang kerja di belakang layar dan jarang bertemu dengan masyarakat. Inikah hal yang menyebabkan masalah terkait obat menumpuk di negeri kita? Ketika ahli obat justru tidak memberikan edukasi obat kepada masyarakat. Inikah alasan mengapa obat palsu marak? Inikah alasan kenapa derajat kesehatan Indonesia meningkat cukup lambat? Dikala apoteker mulai tersadar ada suatu kesalahan yang harus diperbaiki, kok ya ternyata semesta seperti tidak mendukung?
Saya apresiasi munculnya amandemen permenkes terkait pelibatan BPOM dalam pengawasan obat di apotek, saya bahagia sekali melihat begitu gigihnya organisasi profesi apoteker mendorong apoteker untuk selalu ada di apotek, saya lega melihat pasar pramuka sudah digrebek. Berbagai usaha ini jelas dilakukan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat. Apoteker ingin bertemu dengan teman-teman semua, melihat wajah kalian secara langsung. Berkomunikasi dua arah dan menyampaikan konseling pengobatan, kapan teman-teman harus minum obat, bagaimana cara menggunakan inhaler, suppositoria, dll, memberi motivasi kepada teman-teman untuk patuh minum obat, memberi jawaban bagi kegalauan teman-teman akan takutnya minum obat atau ragu kapan harus berhenti pakai obat, menjadi kawannya masyarakat. Para apoteker tidak mau lagi melihat masalah obat palsu yang tak kunjung selesai, pembelian antibiotic secara bebas, penyalahgunaan obat. We are attempting something right now. Please say that you also want to make Indonesians’ health better.
Ah, tapi bos si aa ini seperti sedang menghambat usaha para apoteker. Dengan sekali klik, kita bisa melihat berbagai obat bebas dan obat keras terdisplay di layar hp. Masyarakat bisa mengunduh resep dan hanya tinggal menunggu si aa, mas, abang mengantar dengan senyumnya seraya berkata “neng, bintang 5 ya”
Ini kontroversi jadul yang terjadi di dunia. Berbagai Negara telah mempermasalahkan hal ini sejak awal tahun 2000, ada yang melarang namun ada yang tetap mengizinkan pembentukan apotek online dengan syarat-syarat tertentu. Saya tahu sudah ada beberapa teman saya yang mendorong organisasi profesi dan pemerintah untuk menyikapi hal ini dan mencegah terjadinya kemarakan apotek online. Bukannya kami tidak mengikuti perkembangan zaman, menolak inovasi teknologi, atau menolak efisiensi. Ini berbeda dengan tuntutan para ojek konvensional yang harus memaksakan diri beralih mengikuti zaman. Kami berbicara kesehatan. The nature of health is not for sale.
Apotek online dan si bos sebagai mediator berpeluang menjadi fasilitas terjadinya peningkatan penyalahgunaan obat, kerawanan palsunya obat, ketidakpatuhan pasien dan kesalahan penggunaan obat. Cepat bukan jadi poin utama pelayanan kesehatan, safety is. Bagaimana apoteker akan menjamin keamanan pasien jika si empunya sakit tidak bercakap langsung dengan apoteker, bagaimana apoteker memverifikasi kebenaran resep jika resep dapat diunduh seenaknya lewat aplikasi.
Saya masih menunggu janji organisasi profesi yang ingin menyikapi hal ini. Jikapun kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, buatlah sebuah aturan untuk membatasi ruang apotek online agar apoteker dan masyarakat masih dapat menjadi kawan.
Untuk teman-teman sekalian, saya sebagai calon apoteker mungkin belum bisa berbuat banyak. Saya hanya ingin teman-teman lebih aware dengan kondisi yang ada. Walau kita belum melihat apoteker di setiap apotek, namun percayalah apoteker sedang disiapkan menjadi ahli obat bukan hanya yang mengurusi produksi di industri farmasi tapi juga memberikan pelayanan informasi dan konseling obat sebagai tenaga kesehatan. Sekarang saya kembalikan ke teman-teman bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi sebijak mungkin sambil menunggu janji penyikapan ini. Manfaatkan apoteker di sekeliling kalian, dukung perbaikan kesehatan secara menyeluruh.
Saya berharap, ketika teman-teman sedang sakit dan membutuhkan obat, senyum yang teman-teman tunggu bukanlah dari si aa, abang, dan mas; melainkan senyum para apoteker yang memberikan informasi dan konseling obat untuk kalian, senyum manis dan tulusnya apoteker dengan doanya yang mengiringi “terima kasih, kami doakan semoga cepat sembuh”.
Semoga semesta mendukung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar